Langsung ke konten utama

Haris Firmansyah's Books: Rentetan Review Risma Rusli

Ini adalah kumpulan review buku-buku saya dari satu orang, yakni Risma Rusli. Harapan saya, bakal banyak orang yang tertular semangat Risma: koleksi semua buku karangan saya, lalu membedahnya dengan sukarela.
Perjalanan Risma mengumpulkan buku-buku saya tidak semulus dahi Tatjana Saphira. Tapi dia tetap berjuang keras untuk menggenapi ambisi yang menjadi jalan shinobinya. Sebab dia percaya, apabila sudah terkumpul semua buku saya, akan keluar seekor naga yang dapat mengabulkan satu permintaan. Permintaan hati yang teraniaya sepi.
Cerita lengkap perjuangan Risma menjadi kolektor buku saya bisa disimak di bawah ini:

desain oleh Vindy Putri

1. Date Note

Judulnya “Date Note” dengan sub judul “Memoar Korban Cinta Bertepuk Sebelah Tangan”. Bukan, bukan! Buku ini bukan tentang Ryuzaki yang mendapati Death Note-nya diproduksi dengan judul typo lalu dia menangis di bawah hujan dan dideportasi ke Indonesia. Tapi ini tentang pengalaman cinta mengenaskan sang penulis.
Beberapa pengalaman cinta penulis bisa aja sama dengan pengalaman cinta kita sendiri. Saya juga pernah ngerasain alay-nya mainan ponsel disaat promo 1000 SMS gratis dari kartu AS. Saya beneran ngabisin 1000 SMS. Saya ngirim SMS broadcast ke semua kontak di ponsel saya. Nyokap, bokap, tante, temen-temen. Besoknya saya diapus dari kartu keluarga.
Karena buku ini, saya jadi suka gombal-gombalin orang gak jelas. Siapa aja saya gombalin. Penulisnya yang ngajarin saya lewat buku ini. Kata-kata manis penuh diksi yang puitis. Ah, hati saya jadi meringis. Lalu tiba-tiba dia nyeritain soal patah hati. Aduh, hati saya jadi teriris, seperti diberi perasan jeruk nipis. Sadis.
Buku ini membuat saya teringat dengan yang namanya jatuh cinta dan sakit hati. Sudah lama sejak saya (ngerasa) udah move on dari sakit hati yang terakhir. Dan si penulis malah bikin saya inget.
Saya juga merhatiin kalau si penulis buku ini, sungguh sangat amat gampang jatuh cinta sekali pake banget. Gampang banget sayang sama orang. Udah ngalahin Soleram aja nih. Tapi naasnya, dia lebih sering ditolak dan dihempaskan daripada diterima dengan lapang dada. Paling banter, kalo habis ditolak, ya sang penulis senderan sambil nangis di dada temen cowoknya.
And here we go, bab fave saya cuma dua, yaitu dua bab terakhir. Karena bisa dibilang, dua bab ini adalah klimaks dari semua cerita patah dan sakit hati si penulis. Soalnya saya suka kalo endingnya happy.
Surat Untuk Istri Masa Depanku: entah kenapa saya suka sama bab ini. Bab yang isinya curahan hati sang penulis buat bakal calon istri masa depannya yang masih ada di tangan Tuhan. Mungkin bisa dibilang ini adalah cara terinovatif dari seorang jomblo untuk melepas kangen dengan jodoh yang bahkan dia sendiri belum tahu. Tapi di sisi lain, karena ini, saya jadi kepikiran, jomblo dan gila mungkin gak ada bedanya.
Date Note: saya suka bab ini. Entah kenapa. Mungkin karena saya menginginkan ending seperti ini kali ya. What a beautiful ending.
“Seandainya saya dikasih Date Note oleh Dewi Amor, saya akan menuliskan nama lengkap kekasih berkali-kali sampai memenuhi bukunya. Agar dia bisa jatuh cinta kepada saya setiap hari hingga lembar terakhir hidup kami.”
Asoy dah paragraf penutupnya. Saya jadi iri. Setidaknya, ada yang happy ending di cerita ini. Selain itu, saya juga yakin, si penulis pasti suka banget bikin trio. Sepertinya terinspirasi dari Trio Kwek-Kwek dan Trio Macan, atau mungkin Trio Ubur-Ubur. Bapak mana? Bapak mana? Dimana??? WAKWAW!
Tapi, tulisan si penulis masih ada pengaruh yang besar dari Raditya Dika. Tapi kan banyak penulis yang gitu juga. Dia gak akan bisa selucu ini kalau gak ada pengaruh dari Raditya Dika sendiri sebagai role model-nya. Setiap penulis punya role model sendiri, dan biasanya itu yang ngebangun cara mereka menulis.
 Yakinlah, buku ini patut dibaca dan diapresiasi karena si penulis orang yang aktif menulis dan punya jenis komedi yang ramah lingkungan macem oli Top 1.

2. Nyengir Ketupat
Hasil olahraga tangan @harishirawling ini judulnya “Nyengir Ketupat”. Dilihat dari judulnya, Nyengir Ketupat, buku ini memiliki relasi yang erat dengan per-ketupat-an dan per-nyengir-an. Definisi dari konspirasi nyengir dan ketupat inilah yang menghasilkan persemakmuran antar-bab dalam buku ini. (Kemasukan Vicky Prasetyo)
Buku ini kembali membuka mata saya tentang komedi. Komedi baru. Dengan perspektif baru. Komedi yang halus tapi kasar. Eh, apa ya istilahnya… Ah sudahlah. Pokoknya gitulah.
Ini buku islami yang di-komedi-kan. Atau mungkin buku komedi yang di-islam-kan (terdengar seperti buku komedi muallaf). Saya suka dengan tulisannya. Gak ribet. Gak pake kata politis diplomatis yang liberalis. Apalagi kapitalis. Cuma seperti alis yang ada di atas mata Lilis. Gak tau nyambungnya dimandes. Oke skip!
Bab kesukaan saya adalah “Perbuatan yang Tidak Boleh Dilakukan Ketika Puasa”, “Hal-Hal yang Membatalkan Puasa”, “Joke Fenomenal”, dan “Boyband dan Girlband Syariah”. Semua bab-bab itu menjelaskan tentang komedi yang ke-islam-islam-an yang tadi gak bisa saya jelasin apa maksudnya.
Selain itu, ada juga bab yang bikin saya hampir nangis. Judulnya “Pesantren Geledek”. Serius deh, saya jadi kepikiran soal itu. Ih, penasaran, kan?
Selain itunya lagi, saya juga jadi tahu soal Dinar Rosianto. Yang awalnya saya gak tau, saya jadi tahu bahwa dulu saya memang gak tau apa-apa soal dia. Ya, dia temennya si penulis buku. Temen sepergilaannya. Temen penulis bersemedi nyari jokes. Itu aja sih yang saya tahu. Inti dari paragraf ini adalah saya masih gak tau siapa dia sebenernya.
Selain itunya itu lagi, saya jadi ngerti kalo penulis buku ini memang harus segera menerbitkan buku selanjutnya!
Gak ada buku yang sempurna dan buku yang sempurna itu cuma Al-Qur’an. Jadi buku ini juga punya kekurangan. Ya kekurangan. Masih ada pengaruh penulis lain di buku ini. Terlihat ke-Raditya-Dika-annya.
Inti dari review singkat dari buku “Nyengir Ketupat” yang saya tulis ini adalah, beli bukunya, baca bukunya. Tapi lebaran harus tetap tanggal satu Syawal, kecuali lebaran Idul Adha, ya sepuluh Dzulhijjah. Keep writing, reading, and spreading!
NB: Buku ini harganya sekitar 30ribuan. Tinggal ngumpulin duit 500 perak sehari, dijamin dua bulan kemudian bisa beli buku ini. Kalo males ngumpulin duit, minta uang samahhhh mamahhh sanahhhh.

3. All About Teen Idols
“All About Teen Idols” dengan sub judul ‘follow yang bener, unfollow yang salah dong’. Pas banget buat saya yang lagi demen-demennya ngalor ngidol.
Haris Firmansyah memberikan nuansa yang berbeda dalam penulisan tulisan yang religius. Bukan nuansa serius seperti buku surga-neraka yang dijual mamang-mamang depan SD. Apalagi Nuansa Bening, itu punyanya Vidi Aldiano. Nuansa yang saya maksud di sini adalah nuansa komedi islami yang kental. Bukannya kayak ceramah, malah kayak lagi ngobrol sama temen yang kebanyakan baca tafsir Qur’an dan Kambing Jantan-nya Raditya Dika.
Tulisan Haris Firmansyah memang seperti kawin silang antara tulisan islaminya Habiburahman El-Shirazy, komedinya Raditya Dika, fantasinya J.K. Rowling, realisnya Andrea Hirata, dan ke-absurd-an Haris Firmansyah sendiri. Iya, Haris Firmansyah itu absurd, random, surealis, penuh imajinasi yang ketinggian, dan kadang saya gak ngerti, tapi itu yang bikin saya ketawa.
Lets talk about his book. Buku ini adalah buku komedi islami. Tapi konsepnya tetap universal. Buat semua umat kok. Sesuai seperti judulnya, buku ini berisi tentang pernak-pernik ngidol. Dari tentang apa itu idol, situasi fangirl dan fanboy sekarang, dan saran-saran penulis tentang mengidolakan yang benar. Walaupun judulnya pake kata teen (artinya remaja) tapi orang tua bisa ikutan baca. Sekalian mempelajari bagaimana cara menjadi ABG tua.
Saya suka semua babnya. Karena semuanya nyinggung hati, otak dan semua organ dalam tubuh saya. Apalagi pas bahas soal Kpop. Karena saya adalah salah satu dari korban gelombang besar Kpop. Saya udah tenggelam. Susah keluar. Jadi kayak sembelit gitu.
Bab “Menang Jadi Sun Go Kong, Kalah Jadi Pat Kai” itu ngena saya juga. Saya juga seorang fans sebuah klub sepakbola yang sedang seret prestasi. Sebut saja AC Milan yang maen di Serie A Italia. Ini seretnya kebangetan. Sampai bertahun-tahun gak lolos Liga Champions. Europa League pun kagak dapet play off.
Bab “Teruslah Menulis, Idola!” dan “Penunggang Kambing Jantan” mungkin yang paling saya suka. Karena saya juga mencintai tulis menulis karena keranjingan membaca tulisan orang lain. Saya jatuh cinta sama tulisan Raditya Dika jauh sebelum dia muncul sebagai seorang kambing di Mata Najwa atau sebagai host program Stand Up Comedy. Dan saya masih jatuh cinta sama tulisannya walaupun sekarang Raditya Dika lebih mirip Billy Syahputra.
Bab terakhir yang berjudul “Idola Yang Sempurna” itu paling nyesss banget. I have nothing to say about this. Soalnya bab ini udah paling bener. Baca aja biar tau benernya kayak gimana.
Banyak quote keren di buku ini. Sekalian bisa jadi motivasi diri biar lebih baik lagi dan hidup gak melulu tentang idola atau sebangsanya. Beberapa kutipan favorit saya:
“Kalau sampe dewasa kita belum bisa mengendalikan sifat egois, tandanya kita masih kayak anak kecil.”
“Dompet yang tebal tanpa dibarengi iman yang tebal ternyata berbahaya.”
“Orang yang ugal-ugalan ketika berkendara punya peluang besar besoknya naik keranda.”
“Hanya untuk jadi idola, jangan sampe gila.”
“Kurangin nyinyir, banyakin nyengir.”
“Segera unfollow ramalan sebelum diblokir Tuhan.”
“Bersenang-senang dengan mengganggu kesenangan orang lain itu gak baek.”
“Nunggu lampu ijo itu bentar kok. Gak selama nunggu cinta kita dibalas oleh seseorang yang telah memilih orang lain.”
Yang terakhir itu baper sekali ya pemirsa. Dan masih banyak lagi kutipan yang cocok banget dijadiin stiker di belakang truk.
Tanpa sadar isi bukunya juga banyak curhatan si penulis. Dari dia yang di-bully sama Kpopers sampe dia yang di-friendzone-in sama seorang Beliember, eh, Beliberas, eh, maksudnya Beliebers.

4. Good Hobby VS Bad Habit
‘Good Hobby VS Bad Habit’. Such a nice title. Awalnya saya kira buku ini ada di rak nonfiksi. Tapi setelah nanya sama mbak-mbak Gramedia yang selalu ramah dan mempesona dengan parfum semerbaknya, ternyata bukunya ada di rak religi.
Dalam hati saya mikir, sepertinya saya akan melihat komedi muallaf seperti di buku Nyengir Ketupat yang lalu. Dan sedikit banyak ada benarnya. Kenapa sedikit banyak? Karena menurut saya, walaupun banyak hal dalam buku ini yang berdasarkan hukum Islam, tapi penjelasannya di generalisasi supaya lebih universal. Jadi, gak ada salahnya juga sih buat nonmuslim buat baca. Walaupun lagi, ada beberapa bab yang dikhususkan untuk muslim.
Buku ini banyak berisi nasihat. Ya, nasihat. Tapi bukan nasihat seperti yang biasa orang tua kita tekankan dan biasanya dipaksakan. Kalimat dalam buku ini tidak menggurui. Mungkin karena penulisnya bukan guru jadi bukunya juga tidak menggurui.
Di setiap buku yang saya baca, biasanya ada bab favorit. Di buku ini, ada beberapa yang menarik perhatian saya.
Bab “Gila Belajar vs Malas Sekolah”: ini asli saya kesinggung banget sama bab ini. Tapi baguslah saya kesinggung, berarti saya masih sadar diri. 
Bab “Berlomba vs Nge-Game”: entah kenapa saya merasa kesinggung juga dengan isi bab ini. Saya juga pernah kecanduan game. Purble Place sama Onet.
Bab “Nonton Film vs Bikin Video”: bab ini menyediakan film ‘Toy Story 3’ dengan sulih suara dengan dialek Betawi. Kocak. Bahkan gak jadi bikin saya nangis di endingnya.
Bab “Diary Online vs Cyber Bullying”: di dalam bab ini, anda akan tahu betapa negatifnya mem-bully jomblo, WOTA, Aurel, dan muka Nikita Willy.
 Bab “Koleksi Mimpi vs Kumpulan Keluhan”: bab ini sepertinya membuat saya bermimpi lagi. Dan tidak hanya tinggal mengeluh bahkan untuk hal kecil seperti belek dan iler yang kering di pagi hari.
Sebenarnya semua bab punya sisi menarik. Tapi bab-bab yang di atas itulah yang menarik saya paling keras. Selain karena ngerasa kesinggung, saya juga suka cara si penulis membawakan bahan yang sebenernya berisi kata-kata orangtua bisa berubah menjadi kata-kata yang dibawakan oleh teman sepergaulan sendiri. Ringan, gak seberat kata-kata Mario Teguh. Sepertinya si penulis punya jiwa motivator yang terpendam. Apa penulis tertarik menjadi downline Mario Teguh?
Sebenernya buku ini rilis Februari 2014. Dan setelah menabung selama setahun, akhirnya kebeli juga. Tiap hari saya nabung 150 perak. Percaya gak? Saya aja gak percaya sama kalimat saya itu. Yang penting paragrafnya panjang.
Harga bukunya gak semahal “Fifty Shades of Grey”. Jauh lebih murah dan jauh lebih bermanfaat. Buy, read and spread it. 

5. 3 Koplak Mengejar Cinta
Walaupun judulnya hampir sama dengan “3 Semprul Mengejar Surga” tapi dijamin di dalam buku ini gak akan ada adegan Gading Marten yang ngiri sama kegantengan Andika Pratama atau Narji yang beraksen batak gagal.
“3 Koplak Mengejar Cinta” bergenre komedi religi atau kalo yang saya bilang komedi muallaf. Tapi walaupun judulnya soal tiga orang somplak yang ngejar cinta cewek, buku ini tetap mengedepankan persahabatan yang gak ngeliat situasi. Habis baca buku ini saya jadi sadar, nyari pacar ternyata susah. Dan ngapain susah-susah buat hal yang gak terlalu bermanfaat kayak gitu?
Buku ini nyeritain tentang tiga orang sahabat yang namanya Ardhan, Ibam sama Petai. Asal tau aja, Petai bukan nama aslinya, kalo penasaran ya baca bukunya. Clue-nya, nama asli Petai ini adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, letaknya di Semenanjung Malaka dan merupakan kerajaan Islam. Ini mah gampang banget, anak SD aja tau. Kalau bisa jawab silahkan kirim email ke rismarusli@gmail.com , lalu jangan lupa tulis nomor telepon. Karena hadiahnya adalah telepon teror langsung dari saya sendiri. Karena hadiah pulsa sudah terlalu mainstream. Lagipula saya aja fakir pulsa, masa saya bagiin pulsa.
Back to the beat, tiga sahabat ini menyukai cewek yang sama. Cewek itu namanya Aida. Saya ngiri sama Aida. Udah cantik, berhijab, solehah, anak PMR dan suka baca buku di perpus lagi. Cewek idaman para pria. Ada satu kesamaan saya sama Aida. Saya juga suka ke perpus. Tapi buat bolos dan nyari ruang tidur yang tenang.
Awalnya saya ngira buku ini akan fokus sama proses pengejaran Aida (terdengar seperti Aida adalah anggota ISIS dan buronan BNN). Tapi ternyata saya sangat salah sodara-sodara. Mereka fokus sama pengejaran mahasiswi akbid. Loh kok malah ngejar mahasiswi akbid? Penasaran? Bacalah bukunya...
Dimulai dari pertengahan di bab berjudul “Kiamat Sugro”, saya mulai ngeliat “petualangan dan persahabatan”. Dan saya hampir salah ngira sedang baca buku The Lord of The Rings. Untung gak ada Gollum muncul di tengah cerita lalu nyuri diari Ibam. Loh kok pake bawa-bawa diari segala? Nah, diari akan menjadi kata kunci dalam cerita-cerita terakhir. Kalo makin penasaran ya dibaca dong bukunya. Tapi beli ya, jangan ngerobek plastik di Gramedia. Saya udah tobat loh...
Nah, untuk bab favorit saya, ada beberapa yang saya kasih tanda centang. Baik itu untuk komedi, deskripsi (penggambaran cerita), dan hal yang menyentuh hati, lambung dan usus duabelas jari saya.
Bab Kiamat Sugro sampai bab Galau Karena Diari, menyadarkan saya betapa sahabat yang sebenarnya akan ada di situasi apapun dalam hidup kita. Ketawa bareng, ngejar preman bareng, lalu balik dikejar preman bareng, sampe kita jatuh dan dia ngetawain kita dulu sampe puas, baru nolongin kita. Itulah persahabatan, situasi dimana orang-orang nganggep kita somplak karena mau berteman sama orang yang somplaknya juga kebangetan dan kadang melebihi begonya kita. Tapi persahabatan yang seperti itu biasanya everlasting, karena saking begonya, gak ada yang tau apakah yang kita lakuin ini salah atau gak, jadi gak akan ada yang marahan. 
Satu lagi, persahabatan tiga koplak ini mengingatkan saya dengan Tadakuni, Hidenori dan Yoshitake dari anime favorit saya, Danshi Koukousei no Nichijou.
Buku ini banyak ngajarin saya hal yang udah lama gak saya sadari. Persahabatan, kejujuran, keikhlasan dan niat yang tulus bisa jadi hal yang luar biasa. Jadi buat para remaja ababil di luar sana dan para jomblo yang ngakunya ngenes, bisa langsung beli dan perbaikilah dirimu. Dan buat yang udah ngerasa bener, ya elah, beneran udah bener lu? Baca dulu buku ini baru boleh ngerasa bener. Bener gak?

6. Wrecking Eleven
Judul bukunya “ Wrecking Eleven” dengan sub judul ‘kick and rusuh’. Judulnya mengingatkan saya dengan Miley Cyrus. Tapi tenang aja, isinya bukan tentang Miley Cyrus yang mainan bola sambil ngeluarin lidah kayak kobra sariawan. Tapi ini isinya tentang anak yang bermimpi jadi pemain sepakbola. Sungguh mimpi yang aduhai.
Saya jadi inget, waktu masih kecil (saya juga pernah kecil, gak langsung segede karung kacang tanah begini), setiap pulang sekolah, ganti baju kesebelasan AC Milan, lalu ambil bola di bawah tangga dan lari ke lapangan. Siang-siang nongkrong di lapangan membuat saya seperti Yudha Keling kurang gizi. Sambil ngenyot susu ultra yang sisa suara doang, saya nungguin temen-temen ngumpul di lapangan. Dan setelah semuanya ngumpul, pertandingan secara otomatis dimulai. Sebagai pemilik bola yang sah, saya akan mendapatkan previllege dengan menjadi pemegang ban kapten yang saat itu hanya diberi tanda karet gelang warna merah yang menyala di pergelangan tangan saya yang hitam legam. Saya selalu merasa yang paling cantik di lapangan, karena emang saya perempuan satu-satunya di klub sepakbola itu.
Ah sudahlah, cukup nostalgianya. Sekarang saya udah jadi perempuan beneran dan kulit saya udah agak putihan karena sering minum Bayklin tiga kali sehari. Mending kita bahas buku “Wrecking Eleven” ini.
Cerita dimulai dari berbagai macam permainan yang dicoba oleh Seto, seorang anak lelaki alay yang labil dan dilematis. Mulai dari tamagotchi, tazos, bayblade, tamiya dan crush gear. Kalo diliat dari pilihan maenannya, keliatan kalo Seto udah tuwir sekarang. Mungkin udah jadi om-om girang yang hobinya download anime lolita atau hareem.
Setelah bertemu dengan sepakbola, Seto menjadi anak lelaki alay yang labil dan dilematis tapi jago maenin bola. Lulus SD, dia pun masuk ke salah satu SMP dengan ekskul sepakbola terbaik dan  SMP dengan nama paling modern di dunia keong, SMP Kubang Bekicot. Dia berkembang menjadi remaja lelaki alay yang labil dan dilematis tapi makin jago maenin bola.
Kehidupan remaja tidak pernah lepas dari cinta-cintaan. Seto jatuh cinta pada seorang gadis yang bernama Gadis. Gadis itu cantik dan memiliki gigi gingsul yang manis. Tapi sayangnya gadis yang bernama Gadis itu lebih memilih Rahmet, saingan Seto sejak masih bocah ingusan dan upilan. Dulu Rahmet merebut kebahagiaannya bermain bayblade dan tamiya, sekarang Rahmet juga merebut gadis yang bernama Gadis dari hatinya Seto.
Karena itu, selulus SMP, Seto memutuskan untuk masuk ke SMA yang berbeda dengan gadis yang bernama Gadis dan Rahmet. Seto memutuskan untuk fokus mengejar cita-citanya menjadi pesepakbola setingkat Kapten Tsubasa. Tapi di SMA barunya, dia mengalami banyak hambatan, dari sekolah yang hanya mengutamakan ekskul joget-joget keliyengan, klub sepakbola yang sudah lama dibekukan, sampai anggota ekskul sepakbola yang cupu dan kemampuannya setingkat anak playgroup.
Akankah Seto bisa menyelesaikan hambatan itu? Akankah Seto mampu menggapai mimpinya menjadi Tsubasa di dunia nyata? Akankah gadis yang bernama Gadis itu sadar dengan ketampanan Seto yang sebenarnya memang tidak tampan? Apakah Eli Sugigi akan langgeng dengan Rezky Aditya KW?
Saya gak punya bab favorit. Tapi saya suka semua babnya. Tiap bab, bikin saya cekikan dan kadang bernostalgia sama cita-cita lama saya yang pengen jadi pemain sepakbola.
Selain membuat saya tertawa, buku “Wrecking Ball” ini juga sering membuat saya manggut-manggut. Banyak senggolan yang penulis tuangkan di buku ini. Senggolan buat pemerintah dan penggemar bola dan juga pemain kebanyakan gaya karena ngerasa udah jago banget.
Jangan lupa tentang persahabatannya. Seperti dalam Captain Tsubasa, persahabatan selalu menjadi kekuatan utama. Dan dalam buku ini, itu juga terbukti. Persahabatan di atas segalanya.
***
Demikianlah rentetan review dari Risma Rusli. Semoga makin banyak orang yang bisa mengikuti jalan shinobi Risma yang sangat mulia. Setidaknya, sangat mulia di mata saya. Nggak tau kalau di mata Tuhan.

Komentar

  1. Risma Rusli sepertinya benar-benar fans berat, selain koleksi semua buku, juga direview semua

    BalasHapus
  2. Wah bang bukumu sudah banyak.

    KEREN.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih loh udah bilang saya keren. :D

      Hapus
  3. Whoaaaaa.... tumbenan postingan Bang Har panjang. Ternyata isinya review buku jumlahnya lebih dari satu. Keren. :))

    Mata batinku langsung terbuka gara-gara reviewnya Risma nih. Baru tau kalau Bang Har punya jiwa islami dan berbakat jadi motivator juga. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini postingan terpanjang kalau gak salah. Hahaha. Dan parahnya bukan tulisan saya full.

      Hahahaha. Motivator. :D

      Hapus
  4. waah keren juga. bukunya juga udah banyak.
    kayaknya risma ini ngefans banget sampe di review semua juga koleksi lengkap.
    tinggal kapan inih bukune di angkat jadi film.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Doakan ya. Masih diusahakan. :D

      Hapus
  5. emang bener bang radityadika jadi role-model lu bang?? kalau gitu sama deh bang.

    maafkan gue bang yg bahkan smpai skrg belum punya satupun karya elu ini *sungkem

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, betul. :D

      Iya gpp, Feb. Semoga nanti ada kesempatan buat baca ya. :D

      Hapus
  6. gue suka judul date note.. keren tuh.. kayakk death note versi asmara.

    BalasHapus
  7. Pesantren gledek, langsung teringat asrama masa lalu..
    Bukunya keren keren review nya..
    Kalo masih muda gini pasti sukanya yang ada bumbu asmara dan kesengsaraan jomblo mencari pacar ya.. sudah cape ngejar gebetan tapi pacaran pun kurang bermanfaat.. heuu..hehehe

    BalasHapus
  8. ternyata yang review perempuan, saya baru sadar pas baca di bagian wrecking eleven. Keren reviewnya, jadi pengen beli bukunya :)

    BalasHapus
  9. Bagus ya reviewnya. Wekawekaweka eee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa gak kamu review buku yang belum saya tulis?

      Hapus
    2. Kan saya punya indra brugman  ̄ˍ ̄

      Hapus
  10. Anjaas, panjang banget di-review semua. Gue jadi penasaran sama yang Koplak kalo dari review. :))

    Hm... gue baru punya yang Wrecking. Btw, itu karya terbaru lu yak, Ris? Kok kalo menurut gue karakternya kurang ngena gitu di hati pembaca (maaf sebelumnya kalo sotoy atau cuma gue yang merasa gini). Ehehe. Gue belum baca karya yang lain, sih.

    Dan nggak tahu kenapa, kisah percintaannya kayak cuma embel-embel aja. Kurang kuat gitu konflik dalam percintaannya. Karakter Gadis juga kayak sepintas. Emang, sih, nge-twist. Namun, itu kayak twist cerpen kalo buat gue.

    Ah, apalah gue. Bisanya komen doang. Punya karya juga kagak. Wekaweka. Ceritanya coba review juga nih di komen.
    Gitu aja, sih. Mohon maaf bila apalah-apalah. Thankyou~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Yog. Makasih review-nya. Wrecking Eleven itu novel fiksi yang saya tulis, sebelumnya saya nulis nonfiksi. :D

      Cobain baca 3 Koplak, Yog. :D

      Hapus
    2. "karakternya kurang ngena di hati pembaca"

      ...lalu ada saya yang jatuh cinta sama karakter Bang Jep :D

      Hapus
    3. Oke, Ris! Nanti nabung dulu. Oh, jadi kalo awalnya nulis nonfiksi terus ke fiksi jadi susah ya? Pantes gue nulis fiksi kayaknya susah amat (meskipun baru cerpen). Udah kebiasaan nulis cerita asli, sih. Ehehe.
      Eniwei, terus berkarya broh. Semoga gue bisa nyusul juga. :D


      Syifa: Mungkin karena saya masih normal kali ya, Fa. Hahaha. :p

      Hapus
    4. Syifa: Saya nggak menduga sebelumnya, Bang Jep bisa bikin kamu kecantol.

      Yoga: Iya susah sih kalau menurut saya. Kalau fiksi itu ngayal tapi harus sesuai logika cerita. :D
      Ayo, Yog. Kamu bisa!

      Hapus
  11. Wah hebat, komplit semua. Aku kurang All About Teen Idols aja nih, beri saya titel runner-up #heh

    Jangan lupa salam buat Bang Jep ya~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa saya harus beri kamu Teen Idols dulu biar kamu bisa review begini? :D

      Hapus
    2. Bikin review tandingan gitu ya? Boleh boleh :D

      Hapus
  12. Wah bukunya banyak banget -_-
    cuma punya yang 3 koplak doang :(( itupun udah tak hibahkan

    BalasHapus
  13. waaah fans canggih, direview semuanya, ati2 buku rekening banknya bisa direview juga lho... heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku rekening bank belum happy ending. :(

      Hapus
  14. Wauuuu, kak Haris punya fans beraaaat ihiiy :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

22 Peran di Game Werewolf Telegram

7 Peran Baru di Game Werewolf Telegram

Raditya Dika’s Book: Pakai atau Tanpa Hati, Tetap Komedi Hewani

25 Komik Doraemon Petualangan

A: Aku, Rafathar & Negara

Ngenest: Kadang Hidup Perlu Dibawa Santai

11 Macam Mantan dan Cara Menghadapinya