Selasa, 26 April 2016

Ada Apa dengan Mamet?

Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru.

sumber: Google Image

Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang.

Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara.

“Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang.

“Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura.

“Oh.” Cewek itu langsung percaya dan pergi.

Keesokan harinya, saya menemukan surat kaleng dari seseorang bernama Cinta. Cinta pastilah si cewek mading itu. Isi suratnya hanyalah nama ayah saya digambar dengan doodle. Ternyata masih zaman ngata-ngatain nama orangtua.

Saya langsung marah dan labrak Cinta di ruangan mading.

“Bisa ngomong sebentar?” Saya menarik tangan Cinta sampai kami berdua berada di bawah pohon belimbing.

“Mau ngomong apa?” tanya Cinta sambil gigitin kukunya.

Kamis, 21 April 2016

Hari Kartini 5 Tahun yang Lalu

Cerita ini terjadi tepat 5 tahun yang lalu. Menurut tanggal di note Facebook yang menjadi sumber tulisan ini.

Di kampus, ada agenda rutin setiap 10 menit sebelum perkuliahan dimulai, yakni mahasiswa memberi motivasi kepada mahasiswa lain. Di hari itu, pada mata kuliah Accounting Practice, yang dapat giliran maju untuk memberi motivasi adalah Ari dan Widi. Seperti halnya main catur, bidak putih selalu jalan duluan. Begitu juga dengan Ari dan Widi, Widi lah yang mesti maju duluan.

Kemudian tirai terbuka. Lampu sorot menyala. Karpet merah digelar. Widi koprol ke depan kelas kayak Ranger Kuning.


sumber: archive.kaskus.co.id

"Ini cerita tentang papah aku. Dulu pas masih kuliah, Papah ngambil teknik mesin." Widi membuka kisah.

"Bukan listrik?" potong Uci.

Saya langsung JLEB! Itu sih saya, SMK ngambil teknik listrik, lanjut kuliah jurusan akuntansi. Supaya bisa kerja jadi pengisi suara Teletubies.

"Papah termasuk mahasiswa yang cerdas. Kalau ada temennya yang minta digambarin rancangan mesin, Papah selalu bantuin," lanjut Widi. "Suatu hari, Papah berpikir untuk mencari penghasilan tambahan agar bisa membiayai kuliah sendiri."

Saya tepuk tangan sendiri. Suara tepuk tangan saya membuyarkan keheningan yang tercipta di kelas. Yang lain ngelirik dengan tatapan tak suka. Saya langsung berhenti tepuk tangan. Jangkrik pun berkumandang.

"Lalu Papah bikin kolam ikan dan akhirnya sukses. Setelah sukses, Papah memutuskan untuk gak ikut ujian. Papah berpikir, 'Untuk apa ikut ujian? Kalau udah bisa menghasilkan uang sendiri.' Dan sampe sekarang Papah masih berwirausaha. Sedangkan temen Papah yang dulu sering minta digambarin itu..." Widi berhenti sejenak untuk efek dramatis.

Selasa, 19 April 2016

Anak Sapi Terakhir

Pada tahun 2011, saya pernah membuat parodi film Serigala Terakhir di catatan Facebook. Cast-nya diganti dengan saya dan teman-teman kuliah saya. Bayangkanlah kami sebagai wayang-wayang Opera Van Java memainkan lakon. Yah, walaupun kenyataannya, saya beda jauh dengan Vino G. Bastian. Saya lebih mirip Vino G. Bas Betot.

Beberapa adegan sadis di film aslinya sengaja saya buat konyol pada parodi kali ini. Semoga nggak kerasa kejam-kejam amat. Anggap aja film kartun. Enjoy! 

sumber: google image
***

Minggu, 17 April 2016

Reviewception

Setelah saya mendapat review dari 13 orang, kini giliran saya me-review review tersebut. Jadilah reviewception.

sumber: www.indiewire.com

“Haris Firmansyah? Udah pada kenal? Kalau belum, kenalan gih! Kasian dia jomblo. Sesekali inbox lah, biar inbox-nya enggak sepi. Eh.”

Endang Indri Astuti bilang saya jomblo dan inbox saya sepi. Saya menyangkalnya. Sebab kenyataannya, inbox saya nggak sepi-sepi amat. Ada aja yang kirim pesan ke inbox saya. Walaupun kebanyakan akun robot bule yang ngajak kenalan dan memuji saya, “Sweet.”

Endang cukup niat mengulik keunikan tulisan saya. Nggak cuma novel dan blog yang diulas. Dia juga membahas status yang saya update di Facebook sampai gaya saya ketika foto di bawah pohon rindang. Saya sedekap dibilang kedinginan, padahal niatnya mencoba tampil cool. Tapi jadinya malah memberi kesan terlalu dingin, jadinya mirip Tukul. Iya, maksudnya, too cool.

Ngomong-ngomong sedekap, kalau di Thailand, sedekap itu sebuah sapaan. Sewedekap!

Lanjut ke review berikutnya.

Kamis, 14 April 2016

Senin, 11 April 2016

5 Ujian Sulit Setelah Ujian Nasional

Seorang siswi modis di Medan mengancam bakal menandai polwan karena berani menilang dia. Dia mengaku anak jenderal dan bisa menurunkan pangkat polwan tersebut. Dari elder ke member. Jiah. Ternyata dia main COC. Ternyata klen satu clan.

Sebenarnya polwan nggak perlu takut ditandai. Bisa aja siswi ini punya usaha sampingan di Facebook. Apa ruginya sih ditandai di foto sprei?

Tapi siswi ini masih mending daripada Boy. Dia ditilang, ngaku anak jenderal. Kalau Boy yang ditilang, tetap aja ngaku anak jalanan.

Ketika ada remaja putri mengaku anaknya, sang jenderal malah mengaku hanya punya tiga anak. Cowok semua. Kemudian ada cowok yang nyahut, “Daripada ngaku jadi anak jenderal tapi nggak diakui, mending ngakuin gue sebagai pacar lo aja. Gue nggak bakal menyangkal.”

Cowok ini pasti belum pernah disakiti oleh cewek cantik. Polwan aja dibentak, apalagi cowok yang tampilannya nggak beda jauh dengan polisi tidur.

Dari kasus di atas, kita bisa menarik pesan moral: zaman sekarang, cantik aja nggak cukup. Kalau bisa, cantik iya, ganteng iya. Kayak Hudson IMB.

Hudson dan Jessica via Google Image
Alasan siswi ini kena tilang karena konvoi naik mobil bonceng tujuh dengan pintu belakang terbuka lebar. Selebar pintu maaf. Beliau dan kolega ingin merayakan kelegaan setelah Ujian Nasional (UN) berakhir.

Senin, 04 April 2016

Alasan Rangga Tidak Pulang Menemui Cinta

Mungkin kita pernah bertanya-tanya, kenapa Rangga nggak pulang-pulang? Padahal di Indonesia ada Cinta. Cinta Laura dan Cinta Kuya.


Rangga memang sudah berjanji kepada Cinta, bahwa dirinya akan pulang setelah bulan purnama. Tapi sampai Bulan Terbelah di Langit Amerika dan gubernur Jakarta sudah Basuki Tjahaja Purnama, kenapa Rangga nggak pulang-pulang? Katanya kerja mencari uang.

Untungnya, teman Cinta yang namanya Carmen hanya hobi bermain basket dan nggak suka-suka amat dengan dangdut. Jadi nggak ada yang meracuni otak Cinta sehingga pertanyaan Cinta kepada Rangga hanya sampai situ. Nggak sampai nanya-nanya sambil goyang dribble di Youtube.

"Abang dimana? Dengan siapa? Aku curiga tiada kabarnya. Abang, Abang, cepatlah kau pulang!"

Bisa copot mata Rangga.



Alasan Rangga nggak bisa pulang karena Rangga sibuk menumpas kejahatan di Amerika Serikat. Ini masuk akal. Rangga adalah Spiderman.

***