Rabu, 29 Juni 2016

Tulus season Ramadhan

Ramadhan tahun ini saya merasa kurang optimal dalam beribadah. Saya takut jika saya tidak termasuk dalam golongan orang yang bergembira akan datangnya bulan suci ini. Padahal ustadz yang mengisi kultum tarawih sudah berkali-kali menyiarkan bahwa siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

sumber: www.solopos.com

Lalu saya dipertemukan kembali dengan status Facebook saya beberapa tahun lalu, berkat fitur kenangan yang otomatis nongol di beranda. Sebuah parodi lirik lagu Tulus yang berjudul Sepatu. Diubah judulnya menjadi Bakiak yang dinyanyikan oleh Ikhlas (Tulus season Ramadhan).

Ikhlas - Bakiak

Kita adalah sepasang bakiak
Selalu diinjak, tak pernah teriak
Kita mati tak punya rohani
Bergerak karena kakinya pak haji

Aku sang bakiak kanan
Kamu sang bakiak kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut sholat ketinggalan
Ku tak masalah terkena air wudhu
Tapi aku takut kepleset batu

Kita sadar ingin ibadah
Tapi tak bisa ke sajadah
Terasa afdhol bila kita jamaah
Terasa sedih bila kita sholat di rumah
Mau sedekah, kotak amalnya mana?
Tapi rogoh kantong pun kita tak berdaya

Dari kisah sepasang bakiak di lirik lagu itu, saya kembali tersadarkan tentang pentingnya sholat berjamaah di mesjid tepat waktu. Hal yang belakangan ini jarang saya lakukan karena kesibukan duniawi yang sebenarnya nggak sibuk-sibuk amat. Saya merasa telah jauh dari tujuan saya dilahirkan ke dunia ini. Bukankah seorang mukmin hidup untuk menunggu dua perkara, yakni waktu sholat dan mati?

Senin, 27 Juni 2016

10 Aplikasi Media Sosial Terbaik

Selain ngeblog, saya main aplikasi media sosial di bawah ini.

1. Facebook
Saya adalah anak FB sejati. FB adalah media sosial pertama yang saya geluti. Dari FB, saya bisa ketemu teman-teman yang berpengaruh di hidup saya. Bisa menerbitkan buku pertama pun karena info yang berseliweran di FB. Pokoknya, FB membentuk hidup saya.

Sekarang FB lebih beragam. Isinya nggak cuma anak Kpop yang galau karena nggak bisa nonton konser boyband idolanya, seperti ketika awal saya main FB pada tahun 2010-2012. Sekarang saya biasa menemukan anak SD yang pacaran karena puber kecepatan (diakibatkan kekurangan vitamin D), hoax mengandung SARA yang disebarkan, di-like dan dikomentari AAMIIN ribuan kali, dan video-video kekerasan yang melibatkan anak di bawah umur.

Tapi kita masih bisa memilih, kan? Ada tombol unfollow, unfriend, bahkan block. Selain sisi kelam yang saya sebutkan, ada page Tere Liye yang rutin menggelontorkan quote-quote bijak yang mengayomi dedek-dedek gemes. Ada juga Arham Rasyid yang selalu bisa melucu dengan membawa misi kebaikan. Dan ada Hipwee yang artikel-artikelnya bisa jadi tameng curhat.


Rabu, 08 Juni 2016

The Conjurig

Cerita bermula ketika Carolyn dan Roger Perron pindah ke sebuah rumah pertanian tua di Harrisville, Rhode Island, bersama kelima putri mereka.

"Gue mau kamar yang paling gede ya, sist," celetuk si bungsu ketika baru menginjakkan kaki di rumah tua tersebut. 

"Kagak bisa gitu, cuy. Lu tuh paling bontot di sini. Lu nggak dapet kamar. Lu tidur di loteng lu," ucap si sulung. 

"Wah, berarti gue dapet kamar dong? Gue kan anak kedua." Si anak kedua masuk ke sebuah kamar berukuran sedang. Lalu dia buru-buru klaim kamar tersebut sebagai kamarnya, “Ini kamar gue ya. Cup!”

"Ini memang kamar. Tapi kamu tetap tidak boleh tidur di sini. Karena ini kamar mandi, Nak." Carolyn menyalakan shower dan mulai memandikan anak keduanya yang sudah asyik tiduran di bathub.

sumber: Google Image