Senin, 18 Juli 2016

Pokémon GO Blog

Sewaktu SD, saya koleksi Pokemon. Saya bela-belain beli chiki berhadiah tazos bergambar Pikachu dkk. Setelah itu, saya bertarung melawan teman-teman di kampung sebagai sesama Pokemon Trainer. Kami lempar-lemparan tazos ke langit. Siapa yang tazosnya kebalik, dialah yang kalah. Ada kalanya trainernya yang berantem, Pokemonnya yang nonton.

Ketika dewasa, saya dikejutkan dengan fenomena Pokemon GO. Gokil. Saya bisa melanjutkan khayalan masa kecil saya menjadi Pokemon Trainer. Sekarang bertambah alasan untuk menunda menikah bagi anak 90’an.

“Nikah yuk!”

“Nanti ya nunggu gue dapat Snorlax.”



Jadi, Pokemon GO adalah permainan yang mengharuskan pemainnya pergi untuk mencari Pokemon yang berkeliaran di luar sana. Ya, walaupun kadang di dalam rumah pun kita tetap bisa menangkap Pokemon. Apa lagi kalau bukan Doduo.

Doduo ini Pokemon yang paling sering muncul. Nggak dicari juga nongol sendiri, persis masalah hidup. Doduo ini sejenis burung Dodo, tapi kepalanya dua. Maka jadilah namanya Doduo. Bisa berevolusi jadi Dodrio dengan tambahan satu kepala. Ampun. Untungnya, evolusi Doduo berhenti di kepala tiga Dodrio. Coba kalau evolusi sampai kepalanya duapuluh empat, jadi idol group.

Di dalam permainan ini ada yang namanya PokeStop. PokeStop itu tempat yang harus dikunjungi untuk mendapatkan PokeBall. PokeBall adalah bola untuk menangkap Pokemon. Kalau nggak ada PokeBall, walaupun berhasil menemukan Pokemon legendaris, tetap nggak bisa ditangkap. Itulah pentingnya PokeBall.

PokeStop di daerah saya rata-rata terletak di mesjid dan musholla. Game ini seakan ingin mengingatkan umat manusia bahwa seseru-serunya mencari Pokemon, tetap yang utama adalah mencari pahala. PokeStop yang paling dekat dengan rumah saya terletak di sebuah gerbang makam. Setelah mendapatkan PokeBall di sana, saya selalu mendapatkan hikmah. Bahwa kemana pun kita pergi mencari Pokemon, ujungnya akan kembali ke PokeStop ini.

Sungguh, game yang penuh pesan moral.

Belum lagi ada PokeStop yang posisinya tepat di monumen pahlawan. Seakan kembali mengingatkan bahwa kita nggak mungkin bisa bebas nangkap Pokemon tanpa takut dibedil Nippon seperti sekarang apabila tidak ada para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan. Jadi, marilah kita mengisi kemerdekaan dengan bermain game asal Jepang ini.

Untuk meladeni game ini, saya bela-belain jalan kaki keliling kampung untuk halal bihalal dengan Pokemon. Bedanya, kalau silaturahmi dengan Pokemon, kita nggak salaman, tapi lempar bola ke kepalanya. Jangan sekali-sekali coba cara ini ke manusia. Bisa-bisa hal itu menjadi pemutus tali silaturahmi.

***

Minggu, 17 Juli 2016

I Love You From 1437 Hijriyah

Nama gue Aletta (Michelle Zuidith). Gue pernah jadi cewek yang gemar hujan-hujanan kayak ojek payung di Magic Hour. Gue juga pernah terlibat kisah cinta bersama Dimas Anggara di London. Banyak orang bilang gue mirip Nom-Nom Gowes. Tapi, percayalah gue dan Audi Marissa adalah pribadi yang berbeda.

Di cerita kali ini, gue jadi gadis cantik, anak orang kaya dan kebetulan dijodohkan dengan pria bernama Dito. Setelah membuat Dito ilfil dengan berdandan ala tante-tante rempong, gue kabur ke Bali. Di pesawat, gue duduk bersebelahan dengan cowok rese. Tapi entah kenapa lelaki kerdus itu mendadak lenyap dan digantikan oleh cowok cool yang anteng baca buku.

“Rangga?” ucap gue takjub.

Si Rangga KW Super masih tenang baca buku. Sayangnya, bukunya terbalik.

“Makasih ya,” ucap gue tulus. Sebab dia telah melepaskan gue dari jeratan lelaki karpet yang tadi. Tapi seperti cowok keren pada umumnya, dia tidak menanggapi gue. Cool.

Ketika turun di bandara, gue buru-buru menyetop taksi. Tapi nggak ada taksi yang mau berhenti meski gue udah ngacungin jempol. Yang berhenti malah mobil yang ditunggangi oleh Rangga KW Super.

“Sampai sinetron Tukang Bubur Naik Haji tamat juga nggak bakal ada taksi yang berhenti. Lo nyetop taksi tapi ngacungin jempol kebalik. Emang lo mau dislike video Youtube? Kalau lo mau tahu nama gue, ikut mobil gue,” ucap Rangga KW Super penuh misteri.

Gue buru-buru melempar koper ke dalam mobilnya. Sampai dia kegencet koper gue.

Setelah mengantar gue sampai hotel, Rangga KW Super memberikan tiket perjalanan. “Semuanya 80 ribu, Mbak,” katanya kemudian. Ternyata dia pengusaha shuttle bus khusus bandara. Tapi setelah gue bayar, dia langsung ngacir tanpa memberi tahu siapa namanya.

Gue penasaran.

sumber: movie.co.id

Minggu, 10 Juli 2016

Sabtu Bersama Bapak Koala Kumal

Koala Kumal menceritakan Dika yang gagal menikah. Lalu Dika ketemu dengan seorang ketua klub buku bernama Trisna. Trisna memaksa Dika untuk datang ke bedah buku The Lord of The Rings yang diadakan klub bukunya. Dika pun didesak untuk memakai dress code baju rompi, celana cingkrang dan rambut palsu model sarang tawon.

Selesai bedah buku, Trisna mengajak Dika makan di kafe. Dengan catatan, Dika masih memakai kostum Hobbit tanpa alas kaki. Lalu Dika mendapati Andrea, mantan pacarnya bersama pacar barunya sedang makan di kafe yang sama.

“Lo harus datangi dia. Biar dia menganggap lo udah move on,” desak Trisna.

Dika tampak ragu dengan saran sotoy Trisna. Dari sini, kita tahu bahwa peran Trisna adalah motor penggerak bagi Dika yang pasif. Sama seperti Ryan di serial Malam Minggu Miko, Wawan di film Single dan Kosasih di film Cinta Brontosaurus.

Ketika hendak mendatangi Andrea, Dika menyodorkan buku Laskar Pelangi, minta tanda tangan di halaman pertama. Ternyata yang didatangi Dika adalah Andrea Hirata yang penulis itu.

“Bukan! Bukan!” Trisna pun mendorong Dika ke arah Andrea yang asli. Bukan pula Andrea Bimo si pemain FTV yang mantan pacarnya Sammy Simorangkir itu. Ini Andrea yang diperankan Acha Septriasa.

Sebelum menghampiri meja Andrea, Dika tak sengaja menendang tempat sampah sampai tumpah-tumpah. Dika pun inisiatif memasukkan kembali sampah-sampah itu ke tempatnya. Setelah itu, Dika menyapa Andrea dan pacar barunya.

“Sekarang lo jadi gembel? Rambut berantakan, nggak pakai alas kaki. Terus tadi lo cari makan di tempat sampah?” sapa Andrea iba.

Pacarnya Andrea pun turut berduka dengan nasib Dika, lalu menyodorkan uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu kepada Dika. Dika pun menerima uang halal itu dengan tampang cengok.

Itulah gong di film Koala Kumal. Scene yang bisa bikin penonton tertawa bahagia.

Setelah itu, hening panjang sampai tamat. Alur cerita film Raditya Dika mulai mudah ditebak. Template-nya masih sama seperti Cinta Brontosaurus, Manusia Setengah Salmon dan Single. Bedanya di film ini lebih banyak cameo, figuran, extras, you named it, dari kalangan komika dan Youtubers.

Acha nonton Acha.