Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label parodi

Ada Apa dengan Mamet?

Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya.  Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...

Dilan 2018: Suara dari Milea Milenial

“Namaku Milea. Jenis kelamin perempuan, dan tadi baru selesai makan sate taichan pakai lontong,” ketik Milea pada lembar kosong di Wattpad. Milea ingin menceritakan tentang lelaki yang berhasil mencuri hatinya dengan gombalan tidak biasa, yaitu Kalagondang. Ya Dilan lah! Setelah naik motor berdua keliling Bandung, Milea dan Dilan semakin dekat. Saking ingin dekat-dekat melulu, ketika di sekolah, Dilan nekat duduk semeja dengan Milea, padahal mereka beda kelas. Lalu Dilan minta kertas kepada Milea. Dilan menulis lima nama lelaki berumur di atas kertas. 1. Deddy Mizwar (Demokrat, Golkar) 2. Ridwan Kamil (NasDem, PPP, PKB) 3. Sudrajat (PAN, Gerinda, PKS) 4. Tubagus Hasanuddin (PDIP) 5. Dilan (The Panasdalam) Milea terperangah. Dilan yang telah gagal meramal tentang dirinya, sekarang mau meramal masa depan politik Kota Bandung? Milea pun penasaran, siapa calon gubernur pilihan Dilan. Lalu Dilan mencoret namanya sendiri. “Kok dicoret?” tanya Milea. “Ini bukan daftar ...

Joshua unch Joshua

Cerita bermula ketika Joshua bayi dibawa ayah dan ibunya ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saat hendak ke toilet, ibunya menitipkan Joshua kepada seorang ibu-ibu. Sementara bapaknya Joshua sedang menelepon urusan bisnis investasi bitcoin. “Bu, titip anak saya ya. Saya mau foto-foto di depan cermin toilet dulu,” ucap sang ibu seraya menyerahkan bayinya kepada orang asing. “Titip, titip. Memangnya sendal jepit?” Ibu-ibu asing itu menolak pada awalnya. “Tapi anak saya sudah punya akun Instagram sendiri lho. Followernya sudah 100K sekian dan sering dapat endorse bubur bayi. Ibu nggak mau snapgram bareng anak saya? Mau ngehits mendadak, nggak, hayo?” bujuk ibunya Joshua. Terpikat rayuan, akhirnya ibu-ibu asing itu mau menjaga Joshua selagi ibunya sendiri aktualisasi diri di toilet. “Unch unch.” Sayangnya, penerbangan sang ibu asing dan suaminya yang aseng sudah tiba. Joshua pun ditinggalkan begitu saja karena takut tiket pesawat hangus. Lalu, datang wanita tak waras y...

Jumanji 2017

Yudhita dan Petra ikut bibinya pindah ke rumah bekas Alan Faris. Dikabarkan Alan Faris adalah anak yang hilang tanpa diketahui nasibnya sampai sekarang. Di gudang, Petra menemukan papan permainan bernama Jumanji. Sebelumnya, papan Jumanji memanggil-manggil kakak-beradik tersebut dengan suara tabuhan drum dan nyanyian, "eta terangkanlah, tuk tang tung, tuk tang tung," berulang kali. Lalu Petra mengajak Yudhita bermain. Yudhita langsung mengocok dua biji dadu. Token berbentuk gajah yang dipilih Yudhita bergerak sendiri sesuai angka yang keluar. Lalu di papan muncul tulisan: "Hati-hati dengan giginya yang besar-besar. Ekornya bisa menyabet wajahmu. Jangan sampai diterkam." Petra dan Yudhita waspada. "Kalau dari ciri-cirinya, ini pasti hewan buas," celetuk Petra. Terdengar suara tut piano yang terinjak oleh kaki hewan buas. Sapu an ekornya pun menimbulkan nada minor. Benar saja, dari balik kegelapan, muncul siluet sebangsa kucing besar. Barulah ketik...

Gaji Tak Kasat Mata

Nama saya Genta. Namun saya tidak punya empat kawan lama yang sempat memutuskan berpisah sementara, lalu mendaki gunung bersama di pertengahan bulan Agustus. Itu bukan cerita saya. Cerita saya bermula di hari pertama kerja di kantor baru. Walaupun namanya kantor baru, penampakannya seperti rumah tua yang sudah lama tak dihuni. Yang sudah pasti tidak pernah diisi dengan lantunan ayat suci. Waktu itu saya sedang rehat sejenak dari kerjaan yang saking mepet deadline sampai mengharuskan lembur sampai tengah malam. Ketika saya cuci muka sembari mengagumi kebagusan rupa sendiri di cermin, lampu kamar mandi mendadak mati. Saya tercekat. Ada yang tidak suka dengan wajah saya. Ini pasti ulah rekan kerja saya, Bebek. Ya, benar, namanya memang Bebek. Nama lengkapnya Bebek Goreng Pak Slamet. Selesai saya membilas wajah, lampu nyala kembali. Saya buru-buru keluar kamar mandi. "Udah kerja kantoran, bercandanya masih kayak mahasiswa semester satu baru ngekos!" tukas saya kepada ...

Pose Sip

Ini cinta pertama Lala. Yudhis ingin selametan karena pacarnya nggak punya mantan.                                Kali pertama Lala melihat Yudhis adalah ketika anak baru ganteng tersebut ditegur guru penjaskes di koridor sekolah. “Kamu tahu salah kamu apa?” tanya guru penjaskes yang mencopot sepatu Yudhis secara paksa. “Saya anak baru dan sudah berani pamer pakai Yeezy ke sekolah,” jawab Yudhis mantap khas ucapan anak orang kaya. “Benar. Karena sekolah kita sudah melakukan partnership dengan sepatu Warrior. Merek lain dilarang,” terang guru penjaskes. Yudhis terpaksa telanjang kaki menyusuri koridor sekolah. Melihatnya, Lala tersenyum karena teringat dengan hobbit yang tidak pernah pakai alas kaki. Bedanya, Yudhis tidak boncel, tidak berambut keriting dan tidak makan tujuh kali dalam sehari, belum termasuk ngemil ko...

Critical Thirteen

Awe dan Karin pertama berkenalan di rumah sakit di bangsal 13. Keadaan keduanya sama-sama kritis saat itu. Karin kritis secara fisik. Awe kritis secara finansial. Awe tidak punya uang untuk membayar biaya berobat di rumah sakit. “Itulah gunanya mendaftar BPJS Kesehatan,” ujar Ade Rai yang tiba-tiba muncul di dalam kepala Awe yang lecet. Cerita dimulai ketika Awe dan Karin mengalami kecelakaan yang diakibatkan oleh keteledoran masing-masing: menyetir kendaraan sembari komentar bernada hate speech di kolom Instagram artis yang dibenci. Dengan catatan, mereka pakai akun alternatif yang memang dikhususkan untuk meluncurkan ujaran kebencian. Sudah menghujat, pengecut pula. “Bertattoo begitu, bagaimana mandi junubnya nanti?” komentar Awe di kolom Instagram pelawak komedi tunggal yang baru saja memamerkan tattoo terbaru bergambar tiga pedang Roronoa Zoro dari anime One Piece . “Nggak malu ya menggoda suami orang? Dasar pelakor!” Karin berkomentar menyerang seorang pedangdut. P...