Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Saya baru saja menamatkan baca novel BUMI karangan Tere Liye. Novel setebal kulit badak dewasa ini menceritakan seorang bocah SMA bernama Raib yang bisa meraibkan diri. Sama saktinya dengan koruptor yang bisa meraibkan uang rakyat. Kalau dibandingkan dengan pemuda ringkih yang tidak bisa menghilangkan kenangan indah dengan mantan tersayang, jelas bukan lawannya. Ilustrasi untuk 3 Semprul yang jadi tokoh utama di novel BUMI