Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Setelah saya cocol manja pundaknya sekitar tujuhbelas kali, akhirnya Icha terbangun. “Eh sorry, sorry. Sampai mana ini?” tanya Icha gelagapan. Ternyata Icha ketiduran karena merasakan sejuknya angin sore itu. “Sampai jumpa Minggu depan,” jawab saya kalem. “Ya mana saya tahu?! Pikirkan sendiri.” Saya masih terus mengegas. Baik mengegas dalam berkendara, maupun berbicara. Max dan Kak Ira semakin jauh di depan karena sepeda motor yang mereka naiki bermerek Yamaha. Sementara Bang Hendra sudah tidak kelihatan batang knalpotnya. “Eh salah! Salah jalan! Belok, belok,” instruksi Icha. Saya manut, menyalakan sein kiri, lalu belok kanan. “Eh salah! Benar yang tadi. Maaf, maaf,” ralat Icha. Saya kembali ke jalan yang benar. Tak terasa meneteslah keringat sebiji ketumbar di dahi saya. Saya langsung ngajak ngobrol Icha supaya dia nggak ketiduran lagi. Sampai akhirnya, saya menyaksikan jalanan di depan. Sebuah tanjakan mengerikan yang nggak saya temui di Cilegon. Say...