Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Di era digital seperti saat ini, banyak warganet yang mengesampingkan sopan santun saat berinternet. Mentang-mentang tidak ketemu langsung dengan orangnya, bisa semaunya berkata-kata di media sosial. Mengomentari kehidupan pribadi orang lain yang ditemui di dunia maya sama dengan meloncati pagar rumah tetangga di dunia nyata. Tentulah ini jadi kanker di dunia siber. Namun, kita masih bisa menyelamatkan generasi mendatang dari krisis sopan santun ini. Belum terlambat untuk menyiapkan masa depan yang cerah. Bisa kita mulai dengan program mendidik anak sejak usia dini. Mengenalkan kepada bocah-bocah itu tiga kata ajaib: maaf, tolong, dan makasih. Ajarkan kepada anak dan adik kita untuk mau meminta maaf ketika tidak sengaja membuat kesalahan, apalagi disengaja. Tak lupa mengucapkan kata tolong saat ingin minta bantuan dan perkara lainnya yang pasti merepotkan orang lain. Disempurnakan dengan terima kasih saat diberikan sesuatu atau saat sudah ditolong. Saat hari raya, jamak k...