Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Sebenarnya, saya pengen galau, sama seperti teman saya tahun lalu. Di mana saya mendampingi beliau yang tak stabil secara batiniah kala itu. Sampai akhirnya ia menikah dengan cewek yang membuatnya oleng. Namun, kini kondisi sudah tak sama. Kalau saya menuruti nafsu untuk galau nggak puguh, teman saya sudah tidak bisa menemani karena sibuk mengurus kehamilan istrinya dan mencari uang untuk mempersiapkan kelahiran anak pertamanya. Saya harus mengurus diri saya sendiri. Kalau saya mogok kerja kayak teman saya waktu itu, bisa-bisa cicilan kredit dan tagihan setiap bulannya nggak kebayar. Saya belum siap dikejar-kejar orang Ambon yang hendak menarik kendaraan saya di tengah jalan. Terus pas pulang, mendapati rumah saya dipasangi plang bertuliskan “Tanah dan bangunan ini dalam pengawasan bank.” Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa menghayati kegalauan adalah kemewahan. Tidak semua orang bisa melakukannya secara paripurna. Orang yang belum merdeka secara finansial seperti saya...