Langsung ke konten utama

Postingan

Anak yang Dihasilkan Saya Bersama Tangan Saya

Kalau buku saya diibaratkan anak, beginilah wujud mereka.

Postingan terbaru

Main Bareng di Festival Bermain Anak 2018

Pada tanggal 29 September 2018, subuh-subuh saya naik Xtrans Travel dari Cilegon ke shuttle Jakarta, tepatnya di Hotel Kartika Chandra, Semanggi, Jaksel. Selama di bus, saya hanya tertidur pulas. Enaknya naik travel bisa tidur sepanjang jalan tanpa was-was takut kecopetan. Terima kasih, Xtrans! Sampai Semanggi, saya bangun, mungkin gantian sopir travelnya yang tidur. Saya cuci muka bentar di musholla biar nggak kentara kelihatan muka jok (muka bantal kalau tidur di kamar). Lalu saya order Grab Bike ke Universitas Al Azhar. Di sanalah digelar Festival Bermain Anak 2018 yang diadakan oleh Komunitas PlayPlus Indonesia.

Komunitas PlayPlus Indonesia ini bermula dari sebuah kompetisi proyek sosial. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2013 yang diinisiasi oleh sekelompok alumni pertukaran pelajar IELSP (Indonesia English Language Study Program). Melalui kompetisi AEIF (Alumni Engagement and Innovation Fund) 2013 yang diselenggarakan oleh U. S. Departemen of State, PlayPlus Indonesia terpilih da…

Film Alien dan Sinetron Religi Bernuansa Antariksa

Dengan menonton film "The Predator" dan "Gila Lu Ndro!", saya jadi tahu tentang perbedaan antara alien lokal dan impor. Perbedaan itu didasari oleh unsur ekstrinsik kondisi negara tempat film dibuat. Dalam kasus ini, Negara Paman Sam dan WKWK Land. Di film The Predator, sosok alien diceritakan sebagai ancaman kemaslahatan umat. Dorongan alien datang ke Bumi untuk kudeta sumber daya dan menguasai segalanya. Selama ini, belum bisa dibuktikan eksistensi alien. Sempat terekam kamera penampakan UFO di Blok M. Setelah diselidiki, ternyata piring terbang dalam arti kata sebenarnya. Sama dengan piring terbang di rumah TKP KDRT. Padahal Bangsa Eropa yang dulu berbondong-bondong datang ke Benua Amerika dan menggusur suku Indian adalah definisi alien di kehidupan nyata. Sampai sekarang, Amerika Serikat bisa dibilang sebagai negara adidaya yang tidak ada takutnya karena tiada lawan. Maka, dibuatlah sosok alien, buah dari khayalan setengah paranoid. Bahwa yang bisa menaklukkan Am…

How Wiro Sableng Should Have Ended

How It Should Have Ended adalah webseries animasi yang memparodikan film populer dengan membuat akhir pengganti dan menunjukkan berbagai kekurangan. Nah, itu kata Wikipedia. Bukan kata saya. Kalau kata saya, HISHE adalah webseries parodi yang menyajikan alternatif ending semaunya yang kadang lebih seru daripada film aslinya, seringkali keminter. Saya kepikiran bikin HISHE untuk Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. *** Nusantara, abad ke-16, Mahesa Birawa dan pasukannya menyerbu sebuah perkampungan pada malam hari. “Ambil apa saja yang kalian mau, tapi jangan ambil bagianku,” ucap Mahesa Birawa yang sedang dikendalikan birahi, kepada anak buahnya. “Bagian apa, bos? Kepala ikan?” tanya Kalingundil, salah satu anak buah dari Mahesa Birawa. “Ini tidak dijelaskan di filmnya, tapi biar kamu ngerti motivasi kejahatanku, aku ceritakan ulang cerita versi sinetronnya. Jadi, aku suka dengan gadis bernama Suci, tapi Suci malah menikah dengan Ranaweleng,” terang Mahesa Birawa. “Cukup. Saya pa…

Hindari Ganjil Genap, Ayo Naik Bus dan Rasakan Bedanya di Udara!

Jika bicara kota Jakarta, yang pertama saya ingat adalah bus. Sebab saya lebih sering naik bus setiap ingin mengunjungi ibukota. Ternyata hubungan antara Jakarta dan bus ini bisa membawa perubahan positif terhadap kesehatan masyarakat. Kok bisa? Penasaran? Di Indonesia, bahkan Asia,Jakarta menjadi salahsatukotatersibuk.KetikaAsian Games 2018 berlangsung, kesibukanibukotanegerainipun naik level.Bagaimana tidak? Ribuanatletberdatangandarihampirseluruhnegara di Asia untukberlagamembelanegaramasing-masing. Belum lagi para pendukung yang ikut datang untuk menonton para jagoan. Namun, bisa dibilang Indonesia suksessebagaituanrumahperhelatanolahragaterbesar di Asia ini.