Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Dari awal sampai akhir, film ini dipenuhi stand up comedian atau comic yang hilir-mudik sebagai tokoh pendukung, pemeran pembantu, figuran, extras, cameo atau apalah namanya. Dari mulai preman, dokter kandungan, sampai tukang cilok. Semuanya diperankan oleh comic. Universe film Ngenest ini seperti dunia dengan populasi penduduk 90% komika, sisanya etnis Tionghoa. Bahkan bayi yang baru dilahirkan pun diperankan oleh komika. Serius. Kalau nggak percaya, tonton aja. Sumber: @BakriyadiArifin Sejak SD, Ernest dibully karena berbeda. Agar anaknya tidak bernasib sama, Ernest memutuskan menikah dengan gadis pribumi. Agar nanti anaknya bisa menjadi Tiongkok berdarah campuran dan bebas bully.