Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Kadang mengantre isi bensin di SPBU terdekat cukup menguji kesabaran. Apalagi kalau bukan karena pengendara motor yang mengular di depan pom bensin khusus Pertalite dan Premium. Demi menghindari antre terlalu lama, pengendara sampai melipir ke jalur khusus Pertamax. Rela merogoh kocek lebih dalam, asalkan tidak kelamaan antre. Beberapa pengendara memilih mengisi di SPBU resmi karena butuh nota bensin untuk di-reimburse ke kantornya. SPBU memang bisa mencetak struk bensin apabila diminta oleh konsumen. Selain itu, harganya juga sesuai dengan kuantitas dan kualitasnya. Sudah begitu, dijamin pasti pas. Sebenarnya, mengantre di SPBU bisa menyenangkan apabila ditemani oleh seseorang di jok belakang. Sambil antre, kamu bisa membuka kaca helm sambil menengok ke belakang. Kemudian terjadilah obrolan yang hangat. Mengantre lama pun tak terasa karena asyik berbincang bersama si doi. Lalu pembicaraan diakhiri dengan pertanyaan, “Kamu ada 20 ribu, nggak? Pinjem dong. Aku belum ambil du...