Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Rangga dan Cinta duduk berhadapan di sebuah kafe. Keduanya tampak tegang. “Cinta, yang saya lakukan ke kamu itu nggak adil,” kata Rangga dengan wajah menyesal. Rangga telah melakukan trik licik. Rangga tega skakmat di saat Cinta nggak fokus karena belum minum air mineral sponsor. Ya, mereka sedang main catur di kafe. Cinta kalah dan segera melungsurkan satu selop rokok samsu yang jadi taruhan. “Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu...” ucap Cinta memutar bola mata ke kanan sembari memikirkan kata sifat yang cocok untuk Rangga. “JAHIL!” Rangga pelanga-pelongo. Cinta murka sambil mencabut kertas yang menempel di punggungnya sedari tadi. Kertas itu bertuliskan: “TOLONG GAMPAR SAYA. SAYA ORANG GILA.” “Yah, ketahuan.” Rangga kecewa prank yang dicetusnya gagal. "Kita bukan anak SMA lagi!" amuk Cinta. Sewaktu bertemu Cinta di galeri seni, Rangga iseng menempelkan kertas itu sembari menenepuk punggung Cinta ketika menyapa, "Hai, Ta! Apa ...