Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Sewaktu SD, saya koleksi Pokemon. Saya bela-belain beli chiki berhadiah tazos bergambar Pikachu dkk. Setelah itu, saya bertarung melawan teman-teman di kampung sebagai sesama Pokemon Trainer. Kami lempar-lemparan tazos ke langit. Siapa yang tazosnya kebalik, dialah yang kalah. Ada kalanya trainernya yang berantem, Pokemonnya yang nonton. Ketika dewasa, saya dikejutkan dengan fenomena Pokemon GO. Gokil. Saya bisa melanjutkan khayalan masa kecil saya menjadi Pokemon Trainer. Sekarang bertambah alasan untuk menunda menikah bagi anak 90’an. “Nikah yuk!” “Nanti ya nunggu gue dapat Snorlax.” Jadi, Pokemon GO adalah permainan yang mengharuskan pemainnya pergi untuk mencari Pokemon yang berkeliaran di luar sana. Ya, walaupun kadang di dalam rumah pun kita tetap bisa menangkap Pokemon. Apa lagi kalau bukan Doduo. Doduo ini Pokemon yang paling sering muncul. Nggak dicari juga nongol sendiri, persis masalah hidup. Doduo ini sejenis burung Dodo, tapi kepalanya dua. Mak...