Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Jika kita menanyakan hari apa yang spesial kepada Dumbledore, pasti penyihir ubanan tersebut bakalan menjawab, “Saya suka Hari Potter, tapi saya lebih suka hari-hari bersamamu.” Nyatanya, menjalankan ibadah bersama orang yang kita sayangi pada bulan yang penuh nikmat ini memanglah menyenangkan. Itulah mengapa banyak ajakan buka bersama dari segala penjuru. Sebab mereka ingin bersama kita menikmati indahnya berbuka puasa, yang mana artinya mereka menyayangi kita. Setidaknya masih mengingat kita. Bukan hari apa yang menjadikannya spesial, melainkan bersama siapa menghabiskannya. Saya sendiri pernah menganggap buka puasa dengan orang yang saya sayangi adalah momen yang harus terlaksana, nggak bisa nggak. Biar afdhol. Hampir tiap hari di bulan Ramadan, saya mengajak teman cewek saya waktu itu (sekarang udah jadi mantan) untuk buka bersama. Namun, dia selalu memberikan berbagai alasan menolak buka bersama. Saking banyak alasannya, bisa dipakai buat sahur. Sampai akhirnya, saya meng...