Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Film Milly & Mamet seperti sebuah perayaan bagi manusia-manusia medioker. Di film 'Ada Apa dengan Cinta?', karakter Milly digambarkan lemot dan hanya jadi badut di Geng Cinta. Sedangkan Mamet ditampilkan sebagai cowok culun yang berani-beraninya cinta dengan Cinta, akibatnya hanya dianggap lelucon. Kini keduanya dapat spotlight, berkat sang sutradara Ernest Prakasa yang dipercaya Miles Films untuk melanjutkan waralaba AADC. Courtesy of 21 Cineplex Pemilihan Ernest di kursi sutradara mungkin dilihat dari rekam jejaknya. Ernest sudah dua kali membuat film yang mayoritas pemerannya dari etnis minoritas (baca: Tionghoa), yakni 'Ngenest' dan 'Cek Toko Sebelah'. Namun, dua-duanya bisa disukai oleh banyak orang, tak hanya dari golongannya. Golongan kami pun suka dan tertawa menontonnya. Maka, dengan keahliannya itu Ernest dirasa bisa membuat tokoh Milly & Mamet menjadi layak dicintai penonton. Rangga yang diperankan Nicholas Saputra sudah biasa ja...