Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Andai saja ada kata yang benar-benar bisa menggantikan judul kali ini, mungkin saya nggak akan menulis ribuan kata, cukup menulis judul saja. Ini seperti ingin mengatakan cinta kepada orang yang saya sukai tapi orangnya sudah bersuami dan beranak kembar tiga lucu-lucu. Butuh hening yang lama di kamar mandi. Butuh waktu untuk berpikir sedemikian rupa di depan rak mi, sampai akhirnya saya bener-bener bisa mulai untuk belanja bulanan di minimarket. Sedari 3 jam yang lalu sudah mulas, lebih tepatnya ini sudah saya tahan sejak tiga hari yang lalu. Saya seperti mengalami fase di mana semua hal yang telah saya lakukan selama ini, hanya berbuah simalakama. Kemarau yang berkepanjangan. Doa minta hujan yang terus dipanjatkan. Mandi di hari Minggu yang terus dilakukan. Tapi, ini adalah kenyataan yang harus saya pikirkan sendiri. Entahlah, saya masih belum habis pikir harus memulai pembicaraan ini dari mana, dengan siapa dan harus berbuat apa. Bukan perihal saya sedang pata...