Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Pagebluk ini melahirkan bintang-bintang baru yang bersinar di media sosial. Salah satunya Bintang Emon yang viral dengan omelannya tentang bahaya virus Corona. Di baliknya, ada seorang bocah yang mencoba peruntungan yang sama. Mengusung tema serupa, bocah ini mewanti-wanti bocah-bocah lain tentang kedatangan virus Corona ke Indonesia. “Heh, anak-anak *mbeeeeek*! Dengerin gue ya, *mbeeeeek*! Virus Corona udah masuk ke Indonesia. Gue jadi ngeri, *mbeeeeek*! Mending lo buruan tobat dah!” seru bocah tersebut berapi-api, menasehati teman sebayanya dengan gaya sok tua. Transkrip ucapan bijak si bocah terpaksa harus disensor dengan suara kambing karena memuat kata-kata kasar. Sebenarnya, untuk anak seumurannya yang masih duduk di bangku sekolah, kata-kata kasar dan aktivitas merokok yang dilakukannya ketika membuat video, sudah bisa membikin Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kebakaran jenggot. Namun, tenang, KPAI dan Kak Seto harus berterima kasih dengan iklim bisnis digital kekinian....