Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Destinasi wisata memang banyak bentuknya. Namun, kita harus sepakat jika Papua disebut destinasi wisata hijau. Hijau di sini karena memang masih alami. Kondisi alamnya memanjakan mata dan menyegarkan pikiran. Kita bisa memandang jauh hijaunya rumput, pepohonan, dan hutan di sana. Hutan-hutan di Bumi Cendrawasih adalah satu yang membahagikan di dunia ini karena masih terpelihara dengan baik. Tidak seperti warna hijau pada cat tembok kamar yang terkesan medioker, hijau bagi alam adalah keindahan. Perihal alami, bukan hanya alamnya saja, budaya masyarakat pun demikian. Warga lokal bersahabat dengan alam. Serangkaian praktik adat dan tradisi masyarakat turut menjaga alam seperti saudara sendiri. Nah, kalau kamu berwisata ke sana, jadilah turis yang bersahabat dengan alam juga ya. Jangan nakal. Jika berbicara tentang Papua, saya selalu teringat dengan mimpi lama: berwisata ke Raja Ampat. Raja Ampat yang berada di Provinsi Papua Barat ini memiliki beragam biota laut. Terkadang saya m...