Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Selama pandemi Covid-19, orang-orang jadi lebih rajin. Seolah tidak mau diam di rumah, tangannya selalu berkreasi. Bisa memasak, atau bikin kerajinan tangan. Salah satu kerajinan tangan yang bisa dilakukan adalah membuat bunga kertas yang termasuk seni origami. Konteks bunga kertas di sini benar-benar kertas yang dihias menyerupai bunga. Bukan bunga kertas sebagai kata ganti untuk bunga bank, walaupun uang bahannya dari kertas juga. Namun, origami adalah budaya Jepang. Sementara budaya kita adalah menghias sandal jepit. Bisa mengukir nama atau gambar di atas sandal jepit. Selain berkarya di atas sandal, kita juga biasa bermain sulap dengan bahan sandal. Maksudnya, menghilangkan sandal itu sendiri. Barang yang tadinya ada, eh, mendadak raib, bukankah termasuk seni sulap? Perihal kehilangan sandal, mungkin kita semua pernah mengalaminya. Barangkali ada di antara kita yang pernah berangkat ke masjid pakai sandal Neckerman, pulang-pulang nyeker, men. Namun, tragedi sandal hilang itu tidak...