Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Dulu saya pacaran naik angkot. Jemput pacar pun pakai angkot. Si doi berdiri di depan gang rumahnya, saya menghampiri dengan melambaikan tangan melalui pintu angkot sembari berseru, “Kiriiii!” Untunglah, sopir angkotnya bukan penganut Palu Arit Phobia sehingga pas saya bilang kiri, nggak dicap komunis. Sang sopir hanya menepikan angkotnya sehingga pacar saya bisa lompat ke dalam angkot. Kata ‘kiri’ yang keluar dari mulut saya tidak membuat penumpang berkurang, malah nambah. Tapi sejak sales motor Honda menyerang, saya nggak jemput pacar pakai angkot lagi. Akhirnya saya dibelikan motor oleh Bapak. Setelah sebelumnya saya berhasil mengendarai motor blio tanpa nabrak tembok kampus seperti hari pertama belajar mengemudi bersamanya. Motor pertama saya adalah Supra X 125. Perpaduan warna hitam dan hijau kue talam. Dilengkapi dengan sticker One Heart di bodinya. Mengingatkan saya bahwa saya hanya punya satu hati dan sudah digunakan untuk mencintai satu gadis. Motor ini d...