Langsung ke konten utama

Wenda Koiman: "Tips Agar Novel Diadaptasi Menjadi Film"

HAI!

Ketemu lagi dengan Ngobrol-Ngobrol Ngondek. Kali ini bintang tamunya sangat istimewa. Penulis novel Mengejar Malam Pertama yang udah diangkat jadi film. Ayo, kita belajar bersamanya untuk menjadi penulis yang penuh semangat! Kita sambut saja!

Mas Wenda Koiman!

Ini Mas Wenda atau Ananda Omesh sih?

***

Haris: Halo, Mas Wenda.

Wenda: Halu, brooo.

Haris: Kesibukannya apa nih?

Wenda: Baru selesai menggarap salah satu skenario FTV, dan mengajukan naskah-naskah novel seperti biasa.

Haris: Wah, produktif ya nulis novelnya. Sebulan bisa berapa naskah?

Wenda: Itu stock lama, bro. Yang baru, 2 minggu lalu ada pesanan naskah. Setelah itu belum garap novel lagi.

Haris: Oh begitu. Bisa diceritakan tentang buku terbarunya? Itu inspirasinya dari mana ya? Kok kepikiran bikin Derita Karyawan. Selama ini yang dikenal menderita itu kan... jomblo.

Wenda: Buku komedi derita karyawan itu awalnya berjudul Sketsa Karyawan Idiot. Bercerita tentang seorang cowok bernama Jojo yang gonta-ganti pekerjaan karena minimnya kelebihan. Tampang dan skill minimalis, sering apes pula.

Haris: Deg!

Wenda: Tapi betatapun berat perjuangan Jojo, ia memilih bekerja keras dibanding mengemis. Dan si Jojo kacrut ini pada akhirnya menemukan pemahaman bahwa semenderita apapun anda dalam pekerjaan, tetaplah lebih beruntung dibanding yang tidak miliki pekerjaan. Kisah konyol, namun sarat pesan moral.

Haris: Wah sangat menarik ya tema bukunya. Oh ya, novel Mas Wenda kan pernah ada yang difilmin, bisa diceritakan perjalanannya, dari sebuah buku menjadi film?

Wenda: Awalnya ketok pintu, kirim sana sini. Bertahun-tahun belum ada yang naksir. Sempat ketemu dua PH yang tertarik, tapi produksinya belum ada bayangan 'kapan'. Akhirnya kenal salah satu sutradara yang tertarik dan membantu mengenalkan Mengejar Malam Pertama ke produser. Kebetulan, produser sedang mencari tema sejenis. Alhamdulillah, berjodoh.

Haris: Gimana perasaannya saat menonton film yang diadaptasi dari buku karangan sendiri? Wah, sensasi seperti itu kan gak semua penulis bisa mengalaminya.

Wenda: Puji syukur bagi Allah, kebahagiaan dan rasa haru yang sulit digambarkan. Sesuatu yang dulu ada di kepala, lalu pindah dalam bentuk kata-kata, dan kini bisa muncul secara visual dan 'hidup'. Dan yang lebih mennggembirakan ini adalah tonggak baru, pertama kali berkenalan dengan dunia skenario dan bekerja sama dengan pekerja film. Dunia baru, ilmu baru, tantangan baru.

Haris: Wah, setelah novelnya difilmin, Mas Wenda jadi kenal dengan dunia FTV. Bisa diceritain gimana bisa berkecimpung di dunia FTV sebagai penulis skenario?

Wenda: Modal pengalaman pertama, belajar lagi, mencari jalan menuju PH. Lalu seperti umumnya 'pekerja', mengirim 'lamaran' berupa beberapa sinopsis, dan CV tentang pengalaman menulis. Alhamdulillah, pihak TV sebagai klien PH tersebut menerima ide cerita yang gue ajuin. Skenario FTV pertama juga alhamdulillah sukses, berjudul Queen of Jomblo. Sejak itu gue punya medan tempur baru, di dunia skenario.

Haris: Wah, seru ya. Mas Wenda sudah melebarkan sayap. Nah, untuk penulis yang mau bukunya difilmkan, Mas Wenda bisa kasih tips?

Wenda: Tipsnya antara lain...

Haris: Wajib dicatat nih.

Wenda: Pertama. Ide cerita unik, kuat, dan memungkinkan untuk diproduksi sebagai film (setting terjangkau lokasinya, cast gak melibatkan orang satu pulau, misalnya).

Haris: I see.

Wenda: Kedua. Bermain dengan cerita dan kejadian, bukan memenuhi novel dengan narasi-narasi yang hanya menggambarkan perasaan atau suasana. Kalo perlu detail dalam menggambarkan suatu tempat dan situasi agar menarik visualisasi.

Haris: Oh gitu.

Wenda: Ketiga. Incar segment yang luas.

Haris: Begitu ya.

Wenda: Keempat. Mulai mengenal PH yang ada.

Haris: Iya, setuju!

Wenda: Kelima. Jika memungkinkan, lewati syarat umum ini, minimal cetak 10 kali.

Haris: Wah! Tipsnya ciamik banget ya. Tapi yang poin kelima agak berat ya. Soalnya kalau mau 10 kali cetak ulang dengan satu kali cetak 4.000 eksemplar, kita harus punya 40.000 sepupu untuk beli buku kita.

Wenda: …

Haris: Masalahnya sepupu saya juga gak beli buku saya. Hahahaha.

Wenda: …

Haris: Kok malah saya yang curhat.

Wenda: …

Haris: …

Wenda: Hehe. Kalo Allah mengijinkan tercapai. Tapi tentu tidak semua base on best seller, kalo bisa menarik minat produser. Cuma memang ada PH besar yang mematok syarat itu.

Haris: Mas Wenda, di antara buku-buku Mas Wenda, mana yang paling cepet digarap?

Wenda: Paling cepat? Rata-rata hampir sama sih, paling cepat sekitar seminggu atau sepuluh hari.

Haris: Wah, seminggu nulis novel? Luar biasa Mas Wenda ini. Motivasinya apa bisa nulis seproduktif itu, Mas?

Wenda: Tidak ada target seproduktif apa, yang penting pas ide kuat sudah di kepala, memgumpulkan materi, lalu eksekusi. Biasanya kita bisa menulis dengan cepat karena A-Z sudah siap.

Haris: Kalau untuk promosi buku supaya pembaca mengenal buku kita, menurut Mas Wenda bagaimana jurus jitunya?

Wenda: Promosi yang paling oke dari sisi penulis adalah testimoni pembaca. Get it! Untuk dapat ini tentu syaratnya dua hal: 1. Tulisannya berhasil membius pembaca. 2. Menjalin interaksi yang baik dengan siapapun.  Itu dari sisi penulis. Dengan tambahan berupa gimmick, kuis, dan lain-lain. Penulis harus aktif promosi. Kalo penerbitnya juga aktif, maka sempurna!

Haris: Pick one, jadi karyawan gak digaji atau jadi bos gak punya usaha?

Wenda: Jadi karyawan gak digaji, tapi pada bidang yang kita bisa dapetin sesuatu di samping 'gaji' tadi. Apakah ilmu, relasi, atau kepuasan batin. Gue, akan sangat matur nuwun jika boleh mendapat kesempatan jadi tim penulis film Marvel, meskipun hanya 2 bulan, tanpa digaji.

Haris: Kalau jadi penulis Marvel, superhero seperti apa yang pengen diciptakan?

Wenda: Superhero dari indonesia, tapi masuk di Avangers.

Haris: Buto Ijo untuk menggantikan Hulk ya? Atau Nikita Mirzani menjadi Black Widow? Terakhir nih, punya pesan untuk pembaca dan calon pembaca novel Mas Wenda?

Wenda: Pesan pertama, makan makanan bergizi, biar sehat dan sampe ke toko buku dan beli novel gue. Kedua, patuh sama orang tua, biar dikasih duit buat beli novel. Ketiga, nurut sama bos, biar gajian lancar dan bisa beli novel. Dan keempat…

Haris: …

Wenda: Keempat, pacarin Haris!

Haris: Deg!

Wenda: Karena ia adalah tipe cowok baik yang siap menggandengmu ke toko buku dan bilang; "Pilih yang kamu suka, sayang. Tapi yang aku bayarin cuma 2 judul, yakni 3 Koplak Mengejar Cinta, dan Derita Karyawan. Karena dua novel itu yang bisa membuatmu sejengkal lebih jauh dari kejenuhan."

Haris: Sip banget ini. Oke, Mas Wenda, terimakasih sudah bersedia Ngobrol-Ngobrol Ngondek. Semoga obrolan kita bisa menginspirasi Indonesia. Merdeka!

Wenda: Lho, ini ditayangin di Indonesia, tho? Sik sik, tak pulang dulu ke Indonesia!

Haris: Iya, Mas. Bahkan orang Israel pun nyimak lho.

1.000 tentara Israel menyerbu situs bersejarah Hari-Hari Haris

***

Demikianlah. Pelajaran yang bisa kita petik dari obrolan ini: agar novel bisa difilmkan, harus punya 40.000 sepupu yang bisa dipaksa untuk beli buku kita.

Sekian dari saya, Haris Firmansyah.

Komentar

  1. wih mas haris gue baru selese baca buku lo 3 koplak mengejar cinta, anjir komedi di mix sama religi, paduan yang pas. Kocak dan bernasehat. Mantappp!!!

    dianexploredaily.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, makasih sudah baca 3 Koplak. :D

      Hapus
  2. hahahhaha ikut balik ke indonesia ah

    BalasHapus
  3. sarannya mas Wenda: "seng penting beli novel aku lah"
    hahaha...

    *ini mesti nyuruh saudara poligami biar punya banyak sepupu, hmmm...*

    BalasHapus
  4. wih mantap nih ka wenda
    tapi pesan ka wenda yang terakhir itu banyak konfliknya hhe

    BalasHapus
  5. Aku jadi pengen novelnya difilmin... :3
    Wiwiwiwiwiwiww...

    BalasHapus
  6. Nulis novel seminggu?
    Wow... *lirik naskah yang berbulan-bulan belum rampung*

    BalasHapus
  7. motivasi banget nih
    harus bisa lebih produktif dari Mas Wenda Koiman \o/

    BalasHapus
  8. Wakakakaaaa!
    Tadinya gue kira ini kerjaan isenh Haris aja. Tapi koq aromanya serius... Ya wis, sekali-sekali kita serius. Semoga bermanfaat :)
    Terus berkarya temaaans!

    BalasHapus
  9. keren tuh orang Israel pun juga nyimak

    BalasHapus
  10. Produktif banget mas Wendanya, keren.

    gue aja ini naskahnya baru satu stengah bab -_-

    BalasHapus
  11. Mas Haris aduh ya Allah aduuuhhh duuuhhh *kejedug bom atomnya Israel XD

    BalasHapus
  12. Sangat inspiratif sekali artikel ini semoga dapat menular kehebatan mas wenda koiman

    BalasHapus
  13. yAUDAH pacaran yuk mas Haris wwkwkw

    BalasHapus
  14. Wawancara yang sungguh informatif... dan promotif.

    Humble sekali Mas Wenda Koiman ini, ya. Bisalah jadi orang dalam buat dikenalin ke PH-PH. Iya kan, Ris? Coba dirayu dulu~

    Eaaa.

    BalasHapus
  15. Semoga lu cepet nyusul buat dijadiin film bang novel lu . .
    Kalo belum dijadiin film, di PH-in sendiri aja bang . . casting gue kalo perlu aktornya . . HAHAHA

    BalasHapus
    Balasan
    1. di-PH-in sendiri itu gimana caranya, Ka? :O

      Hapus
  16. Wah, keren emang sekarang banyak film yang diadaptasi dari novel. Novelnya juga best seller.

    Nabilah JKT48 aja mau main film sama Herjunot Ali, juga dari novel filmnya. Lupa apa nama novelnya, kalo nggak salah Nabilah memerankan Mia Clark barangkali bang Haris tau

    BalasHapus
  17. aku kutip tips-nya buat kubagi di blog-ku juga ya, ris. hatur nuhun :)

    BalasHapus
  18. Kalo sistem royalti yg didapat penulisnya gmn ya, ris? Per berapa gt dapet royaltinya. Denger-denger ada yg sampe tembus Milyaran buat skenarionya, belum termasuk royalti dari tiketnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

22 Peran di Game Werewolf Telegram

7 Peran Baru di Game Werewolf Telegram

Raditya Dika’s Book: Pakai atau Tanpa Hati, Tetap Komedi Hewani

25 Komik Doraemon Petualangan

A: Aku, Rafathar & Negara

Ngenest: Kadang Hidup Perlu Dibawa Santai

11 Macam Mantan dan Cara Menghadapinya