Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan Mamet?

Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya.  Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...

Dream Comes True

Selasa, 27 Maret 2012


Date Note di Tisera Cilegon.

Dulu, jauh sebelum Date Note terbit, saya sering mampir ke toko buku yang ada di kota saya: Tisera Cilegon. Saya memandangi rak demi rak yang menampilkan berderet-deret buku.

Kadang kalau saya nemu buku karangan seorang teman, saya akan mengambilnya dari rak. Memandang covernya dengan tatapan nanar, terutama di bagian nama penulisnya. Sambil berujar, "Ini saya kenal penulisnya. Temen FB saya."

Saya mengusap bukunya yang masih diplastikin. Membaliknya, membaca sinopsisnya dan melihat harganya. Lalu mengembalikan ke raknya.

Ada rasa iri yang menyelinap. Tapi irinya bukan sejenis rasa dengki yang mendorong saya untuk membakar bukunya. Sama sekali bukan. Saya iri pengen nerbitin buku aja. Saya pengen merasakan gimana debaran hati ini ketika mendapati buku-dengan-nama-saya-sebagai-penulisnya terpajang di sana. Di rak khusus novel.

Sepulang dari Tisera, biasanya saya lemes kayak kurang darah. Bertanya-tanya, "Kapan tiba giliran saya? Kapan tiba giliran buku saya?"

Tapi, Kawan, pertanyaan sesungguhnya dari kejadian ini bukanlah 'kapan saya akan seperti itu?', melainkan 'bagaimana saya bisa seperti itu?'

Lalu saya menjawab pertanyaan itu dalam hati. Dalam hati yang sedalam-dalamnya daleman hati.

Sejurus kemudian, langit bergemuruh, membolak-balikkan bumi, mengocok-ngocoknya, lalu keluarlah mata dadu berjumlah enam. Mata dadu itu adalah pertanda giliran saya untuk mulai jalan.

Moral of the day: Mimpi adalah kenyataan yang bisa terwujud.

Hikmah: Date Note dipajang di depan Tisera. Menyambut setiap pengunjung dengan mulut nganga. Di depan pendahulunya, ikan salmon galau yang juga nganga.




Komentar