Pluribus: Review Series Vince Gilligan Apple TV+ yang Bikin Saya Bertanya, Apa Jadinya Kalau Dunia Punya ChatGPT Bersama?
Pluribus adalah serial terbaru karya Vince Gilligan, kreator Breaking Bad dan Better Call Saul, yang tayang di Apple TV+. Premisnya sederhana, tetapi ide yang dibawanya sangat liar: setelah sebuah wabah misterius, hanya tersisa 13 penyintas yang masih menjadi manusia biasa. Di luar mereka, hampir seluruh umat manusia telah menjadi bagian dari sebuah kesadaran kolektif bernama The Others.
Yang menarik, The Others terasa seperti versi ekstrem dari ChatGPT. Bedanya, bukan AI yang menjawab pertanyaan, melainkan jutaan pikiran manusia yang menyatu menjadi satu "otak raksasa". Mereka bisa mengabulkan hampir semua permintaan.
Sebagai penulis, saya langsung merasa serial ini dekat dengan keseharian saya. Tokoh utamanya juga seorang penulis yang hidup dari ide dan kata-kata. Ditambah lagi ada karakter asal Indonesia, Ida Ayu Dewi, yang membuat saya makin penasaran mengikuti ceritanya.
Pluribus: Review Series Vince Gilligan yang Bikin Saya Bertanya, Apa Jadinya Kalau Dunia Punya ChatGPT Bersama?
Pluribus adalah serial fiksi ilmiah Apple TV+ karya Vince Gilligan yang mengangkat dunia setelah wabah misterius. Sebanyak 13 orang selamat dari perubahan massal manusia menjadi hivemind bernama The Others. Melalui konsep tersebut, serial ini membahas kebebasan, identitas, dan pilihan manusia ketika semua keinginan bisa dipenuhi.
Daftar Isi
Apa itu Pluribus?
Mengapa Pluribus terasa berbeda dari Breaking Bad?
Mengapa konsep The Others menarik?
Bagaimana pengalaman saya menonton Pluribus?
Siapa saja tipe manusia di Pluribus?
Apakah Pluribus layak ditonton?
Hal yang Perlu Diketahui
FAQ
Kesimpulan
Apa itu Pluribus?
Pluribus merupakan serial fiksi ilmiah terbaru garapan Vince Gilligan, sosok di balik Breaking Bad dan Better Call Saul.
Kalau dua serial sebelumnya terkenal karena kriminal dan konflik moral, Pluribus memilih jalur yang jauh lebih filosofis.
Ceritanya mengambil latar dunia setelah wabah yang mengubah hampir seluruh manusia menjadi bagian dari satu kesadaran kolektif bernama The Others.
Hanya tersisa 13 orang yang masih mempertahankan identitas masing-masing.
Premis ini langsung memancing pertanyaan besar.
Kalau semua orang bisa saling berbagi pikiran, apakah manusia masih membutuhkan kebebasan?
Mengapa Pluribus terasa berbeda dari Breaking Bad?
Banyak orang mungkin berharap Pluribus menghadirkan ketegangan seperti Walter White.
Saya justru melihat Vince Gilligan sedang bereksperimen.
Fokus serial ini bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah.
Yang diperdebatkan adalah makna menjadi manusia.
Konfliknya lebih banyak muncul dari pilihan moral.
Apakah kita rela kehilangan identitas pribadi demi kehidupan yang lebih nyaman?
Mengapa konsep The Others begitu menarik?
Selama menonton, saya beberapa kali berpikir kalau The Others terasa seperti ChatGPT versi hidup.
Semua pengetahuan terkumpul.
Semua orang saling terhubung.
Kalau seseorang menginginkan sesuatu, The Others bisa mewujudkannya.
Bedanya, ChatGPT masih berupa alat.
The Others adalah gabungan jutaan manusia yang berpikir sebagai satu kesatuan.
Konsep ini menarik karena pertanyaannya bukan lagi "bisakah AI menggantikan manusia?"
Melainkan:
Bagaimana kalau manusianya sendiri berubah menjadi AI?
Menurut saya, inilah ide paling kuat dalam Pluribus.
Bagaimana pengalaman saya menonton Pluribus?
Sebagai penulis, saya merasa lebih mudah masuk ke cerita karena Carol Sturka sang tokoh utamanya juga bekerja sebagai penulis.
Ada banyak adegan yang memperlihatkan bagaimana seorang penulis mencoba memahami dunia yang berubah total.
Rasanya cukup relate.
Saya juga cukup senang ketika muncul karakter Ida Ayu Dewi.
Jarang ada serial Barat yang menghadirkan karakter Indonesia dengan peran yang cukup menarik.
Kehadiran karakter tersebut membuat saya merasa dunia Pluribus benar-benar berskala global.
Siapa saja tipe manusia di Pluribus?
Yang paling saya sukai justru bukan misteri wabahnya.
Saya malah tertarik melihat bagaimana setiap penyintas bereaksi terhadap dunia baru.
Kalau dipikir-pikir, hampir semua karakter bisa dikelompokkan menjadi lima tipe manusia.
1. Tipe Marah
Contohnya Carol Sturka.
Ia menolak dunia yang dikendalikan The Others.
Baginya, manusia harus tetap bebas.
Kalau perlu, melawan sampai akhir.
Orang seperti Carol percaya bahwa hidup tanpa pilihan bukan lagi kehidupan.
2. Tipe Pasrah
Ini mungkin kelompok terbesar.
Mereka menerima kenyataan.
Dunia sudah berubah.
Melawan pun rasanya sia-sia.
Akhirnya mereka memilih beradaptasi.
Bekerja.
Makan.
Tidur.
Menjalani hidup seperti biasa.
3. Tipe Naif
Karakter yang paling menggambarkan tipe ini adalah Laxmi.
Anaknya memiliki pengetahuan layaknya orang dewasa berusia puluhan tahun.
Meski begitu, Laxmi tetap kurang mempertanyakan keadaan dunia.
Ia menerima banyak hal begitu saja.
Padahal justru itulah yang membuat penonton ikut bertanya-tanya.
4. Tipe FOMO
Menurut saya, Kusimayu cukup unik.
Ia tahu keluarganya sudah bergabung dengan The Others.
Alih-alih merasa takut, ia justru ingin ikut.
Rasa ingin menjadi bagian dari kelompok lebih besar mengalahkan rasa curiga.
Fenomena seperti ini sebenarnya sering muncul di dunia nyata.
Ketika banyak orang melakukan sesuatu, kita sering merasa takut tertinggal.
5. Tipe Oportunis
Karakter yang paling menarik menurut saya adalah Koumba Diabate.
Ia tidak sibuk melawan.
Ia juga tidak terlalu peduli soal moral.
Yang ia lakukan adalah memanfaatkan The Others demi memenuhi kebutuhan dan fantasi pribadinya.
Ironisnya, karakter seperti ini justru terasa sangat realistis.
Kalau semua keinginan bisa dikabulkan, pasti akan ada orang yang memanfaatkannya demi kepentingan sendiri.
Menurut saya, Koumba adalah gambaran orang yang gagal menemukan kepuasan di kehidupan normal.
Apakah Pluribus layak ditonton?
Kalau kamu mencari serial penuh aksi, mungkin Pluribus terasa lambat.
Namun kalau suka serial yang membuat kepala terus berpikir setelah episode selesai, saya rasa serial ini layak dicoba.
Saya berkali-kali berhenti sejenak setelah menonton satu episode.
Bukan karena bingung.
Melainkan karena ide-idenya terus berputar di kepala.
Bagaimana kalau dunia benar-benar memiliki satu kesadaran bersama?
Bagaimana kalau semua orang tahu isi pikiran kita?
Dan pertanyaan yang paling menyeramkan...
Kalau semua keinginan bisa dipenuhi, apakah manusia masih punya alasan untuk berkembang?
Hal yang Perlu Diketahui
Pluribus lebih mengandalkan dialog dan ide dibanding aksi.
Penggemar Breaking Bad jangan berharap atmosfer kriminal yang sama.
Konsep hivemind menjadi tema utama sepanjang cerita.
Banyak pertanyaan sengaja dibiarkan tanpa jawaban cepat.
Serial ini lebih nikmat jika ditonton sambil mendiskusikan teorinya bersama teman.
FAQ
Apa itu Pluribus?
Pluribus adalah serial fiksi ilmiah Apple TV+ karya Vince Gilligan tentang dunia setelah wabah yang menghubungkan hampir seluruh manusia ke dalam satu kesadaran kolektif.
Siapa pencipta Pluribus?
Serial ini dibuat oleh Vince Gilligan, kreator Breaking Bad dan Better Call Saul.
Apa itu The Others?
The Others adalah hivemind atau kesadaran kolektif yang terdiri dari hampir seluruh manusia setelah wabah misterius.
Mengapa hanya ada 13 penyintas?
Ketiga belas orang tersebut menjadi pengecualian dari perubahan massal. Misteri alasan mereka selamat menjadi salah satu inti cerita.
Apakah Pluribus berhubungan dengan Breaking Bad?
Tidak. Pluribus merupakan cerita baru dengan dunia dan karakter yang berbeda.
Apakah Pluribus cocok untuk penggemar sci-fi?
Ya. Terutama jika menyukai cerita yang mengangkat filsafat, identitas manusia, dan dampak teknologi terhadap kehidupan.
Pluribus berhasil menghadirkan ide yang menurut saya jauh lebih menakutkan daripada kiamat zombie atau invasi alien. Ancaman terbesar justru datang ketika manusia kehilangan identitasnya sendiri dan memilih menjadi bagian dari satu pikiran bersama.
Yang paling saya ingat setelah menonton bukan adegan tertentu, melainkan satu pertanyaan sederhana: kalau kamu hidup di dunia Pluribus, kamu akan menjadi tipe yang mana?

Komentar
Posting Komentar