Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Hari terakhir di Malaysia, saya dan istri memutuskan menghabiskan sisa ringgit untuk membeli oleh-oleh cokelat di bandara. Kami terlalu percaya diri, tidak berpikir panjang bahwa ringgit itu masih akan dibutuhkan. Ternyata, keputusan tersebut keliru karena kami terpaksa extend satu hari. Hidup memang penuh kejutan, dan ternyata, kejutan pertama dimulai dari sini. Ketika saya dan keluarga bersiap terbang dari Johor Bahru ke Jakarta dengan pesawat TransNusa, ada satu hal yang tidak kami antisipasi: delay. Penerbangan seharusnya berangkat pukul 4 sore, tapi kenyataannya, kami malah duduk manis di ruang tunggu tanpa kepastian. Sampai akhirnya, seorang petugas wanita dengan bendera Malaysia di rompinya—sebut saja Makcik—muncul untuk memberikan pengumuman. Dengan semangat tiga bahasa, Melayu, Inggris, dan Mandarin, dia berkata, "Ada masalah teknis dan cuaca, kondisi pesawatnya tak ada radar untuk deteksi jalur langit." Setelah penjelasan yang tidak begitu menenangkan itu, Makcik ...