Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV telah menjadi ajang bergengsi yang melahirkan banyak komika berbakat sejak musim pertamanya. Setiap musim memiliki keunikan tersendiri, mulai dari peserta dengan karakter yang kuat hingga momen-momen ikonik yang masih dikenang. SUCI adalah laboratorium kreativitas yang membantu membentuk wajah industri stand-up comedy di Indonesia. Berikut adalah ulasan saya berdasarkan pengalaman menonton SUCI dari musim ke musim. SUCI 1: Pondasi yang Kuat Saya hanya sempat menonton final Ryan dan Akbar. Sebagai edisi pertama, SUCI 1 cukup menjadi pondasi yang kuat dan menetapkan standar tinggi dengan Ryan sebagai juara yang layak. Juara 3-nya adalah Ernest Prakasa yang kini makin terkenal di dunia hiburan. Saya juga ingat ada Wisben sang pesulap dan Asep komika nge-blank di edisi perdana ini. SUCI 2: Jokes Relationship Finalnya menampilkan Ge Pamungkas dan Gilang. Favorit saya adalah Gilang Bhaskara karena persona cerdasnya, tetapi Ge yang juara karena mungk...