Review Jika Kucing Lenyap dari Dunia: Tentang Hidup, Kehilangan, dan Hal-Hal Kecil yang Ternyata Penting
Review Jika Kucing Lenyap dari Dunia: Pernah nggak sih kamu membayangkan hidup cuma tinggal beberapa hari lagi?
Itulah titik awal novel Jika Kucing Lenyap dari Dunia karya Genki Kawamura. Sebuah cerita tentang “aku” yang hampir mati, lalu didatangi Iblis dengan tawaran yang terdengar menggiurkan sekaligus mengerikan: hidupmu bisa diperpanjang, tapi setiap harinya harus ada satu benda atau satu hal yang lenyap dari dunia.
Satu hari hidup ditukar dengan satu kehilangan.
Review Jika Kucing Lenyap dari Dunia
Awalnya, konsep ini terdengar seperti cerita fantasi biasa. Tapi semakin dibaca, terasa kalau ini bukan soal sihir atau iblis semata. Ini soal pilihan, kenangan, dan nilai hidup.
Setiap hari, tokoh utama harus merelakan sesuatu menghilang: benda, kebiasaan, atau bahkan hal yang selama ini dianggap sepele. Dan dari situ, kita diajak bertanya:
“Kalau ini hilang dari hidupku, apakah aku masih baik-baik saja?”
Tentang Kucing, Keluarga, dan Luka yang Belum Sembuh
Meski judulnya menyebut kucing, buku ini bukan cuma tentang hewan lucu. Kucing di sini jadi simbol hubungan, kenangan, dan rasa kehilangan.
Di balik cerita supernaturalnya, novel ini sebenarnya bercerita tentang seseorang yang punya masalah keluarga, terutama dengan masa lalunya. Hubungan dengan orang tua, rasa bersalah, penyesalan, semuanya perlahan dibuka.
Tokoh “aku” juga digambarkan sebagai sosok introvert khas cerita Jepang. Pendiam, canggung, dan sering menyimpan perasaan sendiri.
Kisah Cinta yang Canggung
Salah satu bagian yang paling menarik adalah hubungan tokoh utama dengan mantan pacarnya.
Hubungan mereka terasa “aneh”, tapi justru realistis. Lebih nyaman ngobrol lewat telepon daripada bertemu langsung. Jalan-jalan sampai Argentina, tapi di pesawat malah diam-diaman.
Rasanya mengingatkan pada film 5 Centimeters per Second: hubungan yang penuh jarak, salah paham, dan perasaan yang nggak pernah benar-benar selesai.
Bukan kisah cinta yang manis, tapi terasa nyata.
Tujuh Hari, Tujuh Bab, Tujuh Renungan
Buku ini dibagi menjadi tujuh bab, masing-masing mewakili satu hari: Senin sampai Minggu.
Setiap hari, ada satu “pengorbanan” baru.
Yang menarik, setiap benda atau hal yang dihilangkan selalu disertai renungan filosofis. Penulis nggak cuma bilang “ini hilang”, tapi mengajak pembaca memikirkan:
Kenapa hal ini penting?
Apa maknanya dalam hidup manusia?
Kenapa kita baru sadar setelah kehilangannya?
Tanpa terasa menggurui, tapi tetap menusuk.
Secara alur, buku ini termasuk page turner. Ceritanya mengalir, bikin penasaran, dan ingin terus lanjut ke hari berikutnya.
Kita ingin tahu:
Besok yang hilang apa lagi?
Sampai kapan tokoh ini bertahan?
Apa harga terakhir yang harus dibayar?
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita pada satu hal sederhana:
Hidup bukan cuma tentang bernapas lebih lama. Tapi tentang siapa yang ada di dalam hidup kita, dan apa yang kita hargai.
Setiap orang, setiap hubungan, setiap kenangan—semuanya memberi makna.
Dan sering kali, kita baru sadar setelah hampir kehilangannya.
Kalau kamu suka cerita yang:
Tenang tapi emosional
Penuh renungan hidup
Bertema kehilangan dan hubungan manusia
Bernuansa Jepang yang introvert dan melankolis
maka Jika Kucing Lenyap dari Dunia adalah bacaan yang layak kamu coba.
Bukan buku yang bikin tertawa keras. Tapi buku yang bikin kamu diam sejenak setelah menutup halaman terakhir.
Setelah itu, kamu akan lebih menghargai hal-hal kecil di hidupmu. Misalnya jadi lebih suka roti unyil.
Karena bukunya dibagi dalam tujuh bab dengan nama-nama hari, kamu bisa membaca dengan metode one day one chapter. Butuh waktu seminggu untuk menamatkannya? Sebenarnya tidak juga. Kalau diterabas sekali duduk sih bisa selesai dalam 7-8 jam lah. Tapi nanti kamu kena ambeien kalau duduk kelamaan.

Komentar
Posting Komentar