Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan Mamet?

Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya.  Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...

Ringkasan Cerita Harry Potter dan Batu Bertuah: Bocah Yatim yang Ternyata Sang Pewaris di Dunia Sihir

Ringkasan Cerita Harry Potter: Kalau hidupmu merasa berat karena tiap pagi diminta beli gas melon sama emak, coba lihat hidup Harry Potter.

Ringkasan Cerita Harry Potter dan Batu Bertuah

Bocah ini yatim piatu sejak bayi. Bukannya diasuh keluarga yang penuh kasih sayang, dia malah tinggal bersama keluarga Dursley. Secara administrasi mereka memang keluarga. Secara perlakuan, Harry lebih mirip ART artis sebelum diangkat jadi komisaris BUMN.

Kamarnya pun bukan kamar.

Di bawah tangga.

Iya, tempat yang biasanya dipakai buat nyimpan sapu, ember, sama kardus mi instan yang "sayang kalau dibuang".

Harry sendiri mengira dirinya cuma anak biasa. Sampai suatu hari, menjelang ulang tahunnya yang ke-11, datang surat misterius dari Hogwarts.

Pamannya panik.

Suratnya dibakar.

Besok datang lagi.

Dibakar lagi.

Besoknya datang ratusan kayak misscall dari debt collector yang menagih pinjol.

Kalau kejadian ini terjadi di Indonesia, kemungkinan besar Vernon sudah bikin status Facebook:

"Hati-hati modus surat undangan sekolah. Jangan asal dibuka."

Karena surat gagal dicegah, keluarga Dursley memutuskan kabur ke sebuah gubuk di tengah laut.

Logikanya sederhana.

Kalau alamat rumah hilang, tukang pos pasti menyerah.

Mereka lupa kalau yang nganter surat bukan kurir SPX.

Melainkan burung hantu.


Tengah malam.

Hagrid datang sambil mendobrak pintu.

Kalau versi Indonesia, kemungkinan dialognya seperti ini.

"Assalamualaikum."

BRAAAK!

"Maaf ya pintunya rusak."

Badannya besar, jenggotnya lebih lebat daripada hujan di bulan Jumadil Akhir.

Kalimat pertamanya sederhana.

"Harry, kamu penyihir."

Dalam hitungan lima menit, hidup Harry berubah total.

Dia mengetahui kalau dirinya terkenal di dunia sihir karena berhasil selamat dari serangan penyihir paling mengerikan bernama Voldemort.

Orang tuanya memang meninggal.

Tapi Voldemort juga gagal membunuh Harry.

Yang tersisa cuma bekas luka berbentuk logo PLN di dahinya.


Hagrid kemudian mengajak Harry belanja perlengkapan sekolah ke Diagon Alley.

Tongkat sihir.

Jubah.

Buku mantra.

Burung hantu.

Kalau dihitung-hitung, biaya masuk Hogwarts mungkin lebih mahal daripada uang pangkal beberapa sekolah swasta.

Untung Harry dapat warisan.

Kalau enggak, mungkin Hagrid sudah menyarankan opsi paylater.


Perjalanan menuju Hogwarts juga unik.

Murid-murid harus masuk lewat Platform 9¾.

Platform yang bahkan Google Maps pun mungkin bingung mencarinya.

Di kereta, Harry bertemu Ron Weasley.

Ron berasal dari keluarga besar yang anaknya banyak sekali.

Kalau versi Indonesia, ibunya pasti pernah dengar pertanyaan,

"Bu, nggak ikut program KB?"

Tak lama kemudian muncul Hermione Granger.

Anak yang baru lima menit kenal sudah mengoreksi cara pengucapan mantra orang lain.

Aura juara kelasnya sudah terasa bahkan sebelum semester dimulai.


Sesampainya di Hogwarts, semua murid harus disortir menggunakan Topi Seleksi.

Teknologinya luar biasa.

Topinya bisa membaca isi kepala manusia.

Jauh lebih canggih daripada HRD yang menyimpulkan kepribadian pelamar hanya dari pertanyaan,

"Kalau jadi hewan, kamu ingin jadi apa?"

Topi Seleksi kemudian menentukan asrama.

Kalau versi Indonesia, topinya mungkin berkata:

"Kamu cocok di Slytherin."

Harry menjawab,

"Jangan dong."

Topinya langsung berkata,

"Yaudah."

Topinya mengalah.

Kalau proses pemilihan jurusan kuliah semudah ini, mungkin tidak ada lagi mahasiswa yang curhat salah jurusan.


Di Hogwarts, Harry mulai belajar sihir.

Pelajaran pertama berlangsung.

Profesor Snape menjelaskan ramuan selama dua jam tanpa membuka PowerPoint.

Rocky Gerung pasti kagum.

Di sela-sela belajar, Harry juga masuk tim Quidditch, olahraga naik sapu terbang yang aturan mainnya bikin FIFA angkat tangan. Harry langsung dijadikan pemain inti. Seluruh siswa lain mulai berbisik.

"Orang dalam."

Harry bermain sebagai Seeker. Posisi yang tugasnya mengejar bola emas kecil.

Lucunya, pertandingan Quidditch ini agak membingungkan.

Puluhan pemain capek-capek mencetak poin.

Lalu datang satu bola emas.

Siapa yang menangkap bola itu hampir pasti menang.

Ibarat pertandingan sepak bola yang hasil akhirnya ditentukan oleh siapa yang duluan menemukan kunci Beat karbu wasit.


Masalah mulai muncul ketika Harry, Ron, dan Hermione menemukan seekor anjing berkepala tiga.

Buat sebagian orang, melihat satu anjing saja sudah cukup bikin balik arah.

Harry malah penasaran.

Anak ini memang dari awal hobinya masuk ke tempat yang sudah jelas-jelas dilarang.

Terus mulai banyak kejadian sus.

Ada troll.

Ada guru yang vibes-nya red flag.

Ada guru lain yang terlalu red flag sampai semua orang curiga.

Harry:

"Fix ini Snape penjahatnya."

Alasannya sederhana: Mukanya jutek.

Plot twist:

"Salah bos."

Kalau film ini tayang sekarang, netizen Indonesia pasti juga langsung nuduh Snape sejak trailer pertama keluar.

Padahal kenyataannya...

Yang jahat justru guru yang selama ini kelihatannya paling kalem.

Pelajaran hidupnya sederhana.

Jangan menilai orang dari ekspresi wajah.

Kadang yang mukanya paling jutek justru lembur demi melindungi murid.


Harry, Ron, sama Hermione akhirnya investigasi sendiri.

Karena kalau nunggu guru gerak, filmnya selesai dalam 20 menit.

Mereka ngelewatin tanaman yang nyekik orang, catur ukuran XXL, kunci terbang yang lebih lincah dari lalat, sampai akhirnya ketemu dalang sebenarnya.

Di ruang terakhir, Quirrell membuka sorbannya.

Ternyata Voldemort selama ini menempel di belakang kepalanya.

Ini mungkin satu-satunya kasus di dunia ketika orang benar-benar bisa berkata,

"Lo muka dua!"

Dan kalimat itu bukan satir.


Voldemort ngajak Harry kerja sama.

Kayak bos MLM.

"Gabung sama aku."

Harry:

"Skip."

Harry akhirnya berhasil menggagalkan rencana Voldemort.

Akhirnya Quirrell kalah gara-gara nggak kuat nyentuh Harry.

Quirrell gugur dalam keadaan gundul.

Ron dan Hermione selamat.

Pada pesta akhir tahun, Dumbledore memberikan tambahan poin kepada Gryffindor tepat sebelum pengumuman juara.

Slytherin yang tadi sudah senyum-senyum langsung kehilangan piala.

Kalau ini terjadi di Indonesia, besok paginya pasti muncul thread sepanjang 28 slide berjudul,

"Mengapa Sistem Penilaian Hogwarts Tidak Transparan?"

Lengkap dengan infografik, flowchart, dan tulisan:

"A Thread."

Harry akhirnya pulang ke rumah.

Tapi kali ini dia sadar satu hal.

Kadang rumah adalah tempat yang tiap tahun nyaris membuat kita mati, tetapi entah kenapa selalu ingin kita datangi lagi.

Itulah Hogwarts. Tempat belajar sihir sekaligus sekolah dengan standar keselamatan paling rendah dalam sejarah pendidikan.

Komentar