Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label curhat

Ada Apa dengan Mamet?

Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya.  Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...

Nyesel Beli Game Shinchan Nintendo Switch: Udah Mahal, Story Singkat, Cepat Tamat

Buat kamu yang tertarik beli game Shin Chan: Shiro and the Coal Town di Nintendo Switch , mungkin ada baiknya pertimbangkan dulu. Dari segi visual, game ini emang memanjakan mata. Suasana desa Jepang yang dilukiskan dengan detail indah bisa bikin siapa pun healing, apalagi kalau kita capek dan cuma ingin main game santai. Grafisnya seolah seperti lukisan desa dengan sawah, sungai, dan ladang yang asri. Tapi sayangnya, pengalaman ini hanya sebentar. Di game ini, kita bermain sebagai Shinchan yang sedang berlibur di desa tempat tinggal neneknya di Akita. Tugas kita sederhana: menangkap serangga, memancing, bercocok tanam, dan membantu warga sekitar melalui beberapa quest ringan. Cerita mulai menarik saat Shinchan dan anjingnya, Shiro, terbawa ke dunia alternatif, Coal Town. Namun, pengalaman menjelajahi dunia isekai ini terbilang singkat. Meski latarnya indah dan karakter di Coal Town memberi warna baru, cerita game terasa seperti hanya tempelan. Sayangnya, setelah tamat, game ini tidak ...

Pengalaman Naik TransNusa: Drama Delay dan Solo Warrior yang Menginspirasi

Hari terakhir di Malaysia, saya dan istri memutuskan menghabiskan sisa ringgit untuk membeli oleh-oleh cokelat di bandara. Kami terlalu percaya diri, tidak berpikir panjang bahwa ringgit itu masih akan dibutuhkan. Ternyata, keputusan tersebut keliru karena kami terpaksa extend satu hari. Hidup memang penuh kejutan, dan ternyata, kejutan pertama dimulai dari sini. Ketika saya dan keluarga bersiap terbang dari Johor Bahru ke Jakarta dengan pesawat TransNusa, ada satu hal yang tidak kami antisipasi: delay. Penerbangan seharusnya berangkat pukul 4 sore, tapi kenyataannya, kami malah duduk manis di ruang tunggu tanpa kepastian.  Sampai akhirnya, seorang petugas wanita dengan bendera Malaysia di rompinya—sebut saja Makcik—muncul untuk memberikan pengumuman. Dengan semangat tiga bahasa, Melayu, Inggris, dan Mandarin, dia berkata, "Ada masalah teknis dan cuaca, kondisi pesawatnya tak ada radar untuk deteksi jalur langit."  Setelah penjelasan yang tidak begitu menenangkan itu, Makcik ...