Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Main Nintendo adalah cara terbaik untuk menunggu waktu berbuka puasa di masa SD. Nggak cuma Nintendo rumahan, Nintendo jenis gameboy pun saya suka mainkan. Nah, kalau Gameboy ini saya harus rental ke mamang-mamang yang mangkal di Madrasah. Sewaktu sekolah sore atau sekolah agama, sebelum masuk kelas, saya menghabiskan uang saku untuk bermain game Mario di Gameboy. Yang kalau waktunya habis, talinya ditarik sama mamangnya. Di zaman Gus Dur, sekolah diliburkan sebulan selama Ramadan. Nah, itulah waktu yang tepat untuk menamatkan Super Mario di Nintendo. Saya ingat betul saya jadi orang pertama di rumah yang berhasil menamatkan game Mario. Di saat teman-teman saya yang lain sudah menamatkan Iqro 4. Setelah menamatkan game Mario, saya bisa memainkannya lagi dari level awal. Namun, tingkat kesulitannya lebih tinggi. Musuh dan rintangannya lebih susah. Namun, karena saya sudah menemukan jalan pintas untuk tamat dalam waktu cepat, saya bisa menamatkannya lagi dan lagi. Lalu saya be...