Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
sumber: Google Entah apa yang dipikirkan orangtua saya ketika melahirkan saya. "Hah? Anak kita hanya sebesar centong nasi?" Mungkin begitu teriakan mereka di kamar persalinan. Tapi, biar bagaimanapun, ketika seorang bayi dilahirkan, bersamaan dengan ari-ari yang dikubur di halaman belakang rumah, ada harapan yang ditumbuhkan di hati kedua orangtuanya. Ya, manusia lahir dengan membawa harapan. Ngomongin lahiran, saya sempat ditanya teman di grup WhatsApp. "Kak Haris, ulang tahunnya kapan?" tanyanya.