Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Saking pusingnya cari dana buat renovasi rumah, saya sempat membayangkan jadi target bantuan tim Bedah Rumah . S ebuah reality show yang memungkinkan nantinya rumah saya direnovasi gratis. Masalah papan yang jadi kebutuhan primer seorang manusia pun bisa teratasi dalam sehari. Selain itu, dapat isinya juga: perabotan rumah tangga seperti furniture dan barang elektronik lainnya. Dalam transaksi ini, pihak televisi mengeksploitasi kehidupan sosial target tim Bedah Rumah: menjadikan kesedihan sebagai komoditi. Air mata masuk industri untuk diubah menjadi bata demi bata. Sampai akhirnya jadilah istana lengkap dengan segala isinya. Jika ingin jadi target tim Bedah Rumah, saya mau nggak mau harus terlibat dalam drama yang sudah di-setting. Namun, saya tidak yakin kehidupan saya akan menuai rasa simpati penonton. Saya membayangkan pembawa acaranya ikut kerja bareng saya di kantor untuk mengetahui betapa keras pekerjaan saya. Lalu saya ditanya-tanya perihal penghasilan. "J...