Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Apa jadinya seseorang yang pernah menulis buku berjudul Cancut Marut, memutuskan menjadi guru SD? Kadang hidup memang tak tertebak. Edot yang sejak buku pertama lekat dengan nama “cancut” itu justru turut berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa. Padahal kalau konsisten dengan branding cancut, mungkin dia sudah jadi quality control produk-produk Calvin Klein. Ini adalah hidayah untuk mereka yang masih setia dengan label “jorok” untuk memulai kehidupan baru. Tidak ada kata terlambat untuk rebranding, guys. Ingatlah, masih ada masa depan. Edot atau Edotz Herjunotz adalah salah satu kawan ngeblog saya yang berprofesi sebagai guru SD, selain Hadi Kurniawan. Selama ini, standar guru SD seperti Bu Muslimah di Laskar Pelangi yang sabar, penyayang, dan suportif. Namun, selesai baca novel Andrea Hirata itu, saya dihadapkan fakta di lapangan bahwa ada juga guru SD seperti Edot atau Hadi. Dua blogger yang pernah menulis catatan kecut pada masanya, tetapi kini mereka menikmati manisnya ...