Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Dalam sebuah film, seorang gamer bisa mendapatkan uang dari bermain game. Namun, di satu titik nadir, ia menjual peralatan game, termasuk item-item dalam gamenya, demi modal usaha. Setelah menjadi pengusaha sukses dengan aset miliaran, ia menikmati hidupnya dengan santai. Ujung-ujungnya, dia kembali bermain game. Ternyata kesempatan untuk bermain game dengan tenang, dapat menjadi sebuah akhir yang bahagia. Tentu saja saya tidak mau menunggu sukses hanya untuk bisa bermain game. Game sudah menemani saya sejak kecil. Bahkan game itu sendiri bisa membuat pertemanan. Contohnya, konsol game yang dihadiahkan kepada saya yang berani sunat. Pada masanya, benda itu bisa membuat rumah saya ramai karena dikunjungi teman-teman sekampung yang ingin main bersama. Ini merupakan momen yang menyenangkan yang pernah saya lewati. Saya melihatnya sekarang, ketika bermain game bersama teman, kita tidak hanya bermain game, tetapi juga menciptakan kenangan untuk masa depan. Sebab saat ini, saya kangen ...