Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Di TikTok, ada video yang memperlihatkan seorang penjual mi instan dengan takarir begini, “Di saat tetanggaku curhat gajinya 6 juta per bulan, aku cuma bisa santai. Omzetku 1 juta per hari.” Lengkap dengan sound yang terdengar optimistis. Namun, di kolom komentar, ada netizen yang julid. “Omzet 1 juta, modal 950 ribu, biaya operasional 50 ribu.” Lucu! Kalau begitu, namanya impas dong. Namun, berwirausaha tentunya tetap mengejar profit setelah omzet. Hitung-hitungan itu perlu, supaya tidak jebol keuangan. Kalau omzet 1 juta, harapannya profit 50% dari omzet, jadi pendapatan per harinya 500 ribu. Itulah alasan pembuat video TikTok tersebut masih bisa santai. Dengan seminggu berjualan saja, pendapatannya hampir bisa menyaingi gaji karyawan sebulan. Kesimpulannya, menjadi pengusaha atau karyawan, itu pilihan karier masing-masing ya. Yang jelas kalau mau jadi pebisnis, harus tahu apa yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan. Dimulai dari yang paling sederhana, yaitu perhitungan tr...