Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Beberapa waktu yang lalu, saya, Heino, dan Pak Ziya melakukan kunjungan dinas ke kantor pusat di Jakarta. Kami berangkat dari Cilegon dengan mobil dinas kantor, dan suasana perjalanan terasa spesial karena kami sedang menjalani ibadah puasa menjelang lebaran. Setibanya di Jakarta, kami disambut oleh suasana kantor yang sangat menyenangkan. Bos kami memberi THR tambahan sebesar 100 ribu rupiah untuk masing-masing dari kami. Rasanya sangat senang bisa pulang dengan sedikit rezeki tambahan di saku. Setelah urusan kantor selesai, Pak Ziya, yang kebetulan juga menjadi sopir kami, mengantarkan kami ke depan rumahnya di Jakarta. Setelah itu, Pak Ziya pamit pulang dan berpesan kepada kami untuk langsung pulang ke Cilegon setelahnya. Pak Ziya menyerahkan kemudi mobil kepada Heino, yang kali ini baru pertama kali berkunjung ke Jakarta dengan mobil. Heino memiliki rencana lain—dia ingin mampir ke kosan pacarnya, Dolia, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Pak Ziya. Meskipun Heino belum ber...