Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Di suatu siang, teman kerja saya yang bernama Rohan mendapatkan panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Suara di seberang sana menyapa Rohan, “Sedang apa, Bro?” Baru terbangun dari tidur karena dering hape, Rohan menjawab setengah sadar, “Baru bangun tidur nih. Ini siapa ya?” “Ini gue! Masa nggak kenal dari suaranya?” ucap pria di seberang sana. “Siapa ya?” Rohan bingung. “Nomor gue nggak di-save di kontak?” tanya pria di seberang sana. “Iya, nggak ada namanya.” Rohan menjawab polos. “Tapi ini siapa ya?” “Masa udah lupa sama gue?! Padahal baru tadi ketemu.” Pria misterius itu mulai sok akrab. Dengan jebakan kalimat “Baru tadi ketemu”, Rohan masuk perangkap. Rohan pun mulai menyebut nama saya, “Ini Pak Haris ya?” “Iya!” Pria tanpa nama itu langsung menjual nama Haris. “Kenapa, Pak Haris?” Rohan mulai membukakan jalan kepada Haris Gadungan. “Ini nih, gue mau minta tolong. Gue baru aja kena tilang. Mau bayar denda tilang, tapi nggak ada saldo di rekening bank gue. Bisa pakai duit lo dul...