Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
Sebagai penggemar Harry Potter sejak remaja, saya bisa bilang: Hogwarts Legacy adalah game terbaik di dunia. Titik. Tidak ada diskusi lagi. Game ini bisa membuat saya merasakan pengalaman yang selama ini cuma ada di imajinasi saya—yaitu menjadi murid Hogwarts yang asli, bukan sekadar "pengunjung" yang nonton dari balik layar bioskop atau halaman buku. Bayangkan, hal-hal yang dulu saya baca di novel karya J.K. Rowling tiba-tiba hidup di depan mata saya! Saat pertama kali main, saya sampai menangis bahagia. Serius. Air mata haru bercampur kegembiraan karena bisa masuk Hogwarts, walaupun di dunia game. Di Hogwarts Legacy, saya mulai petualangan sebagai siswa tahun kelima di Hogwarts—agak mirip kayak Harry Potter di buku. Saya ikut upacara awal tahun, diseleksi oleh sorting hat, dan masuk kelas-kelas sihir seperti Charms, Defense Against the Dark Arts , Herbologi, Ramuan, Ramalan, bahkan merasakan kantuk berat di kelas Sejarah Sihir oleh hantu Profesor Binns yang membosankan (ya...