Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru. sumber: Google Image Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang. Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara. “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang. “Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura. “Oh.” Cewek itu langsung percaya dan...
“Bagaimana kalau bukan karena ada penimbunan yang menjadikan minyak goreng langka?” “Terus apa yang terjadi sebenarnya?” “Ada alien raksasa yang menginvasi bumi. Jadi, para superhero yang tidak bisa mengalahkannya harus menuruti permintaan sang monster untuk menyajikan makanan kesukaannya.” “Makanan kesukaannya?” “Ayam goreng. Berhubung porsi makannya monster ini banyak sekali, jadi para superhero harus menyiapkan kuali raksasa untuk memasak berton-ton ayam goreng. Tentu banyak minyak goreng yang dibutuhkan. Meniriskan ayamnya saja mungkin harus diangkut pakai crane.” “Kenapa harus kasih makan monster?” “Ya kalau dia lapar, ngamuk, bisa mengacak-acak seluruh kota dan menghancurkan dunia. Namun, cara tersebut juga strategi untuk membunuh monsternya secara perlahan-lahan. Harapannya, karena tiap hari makan junk food, monsternya kena kolestrol, terus kena serangan jantung, mati. Dunia berhasil diselamatkan.” Begitulah percakapan dua bocah yang mengantre di depanku. Mereka sedang bert...